(Arrahmah.id) – Sebuah video yang beredar luas di media sosial mengklaim adanya serangan baru dari Iran terhadap kapal induk Amerika Serikat “USS Abraham Lincoln” di Laut Arab. Namun, hasil penelusuran mengungkap bahwa klaim tersebut tidak benar dan video tersebut merupakan rekayasa berbasis kecerdasan buatan.
Rekaman yang viral itu memperlihatkan sebuah kapal perang besar dilalap api setelah ledakan dahsyat di tengah laut. Narasi yang menyertainya menyebutkan bahwa serangan dilakukan oleh Iran menggunakan drone atau rudal, seiring meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
Namun, tim verifikasi sumber terbuka dari jaringan Al Jazeera memastikan bahwa video tersebut tidak autentik.
Melalui analisis visual mendalam, ditemukan sejumlah indikasi kuat bahwa video itu dihasilkan menggunakan kecerdasan buatan. Di antaranya adalah kejanggalan pada struktur kapal, serta pergerakan api dan asap yang tidak konsisten secara fisika.
Selain itu, tidak ditemukan ciri khas yang lazim pada kapal induk Amerika, seperti nomor identifikasi atau pola persenjataan standar kapal induk Amerika Serikat.
Penelusuran lebih lanjut melalui pencarian balik (reverse search) menunjukkan bahwa video tersebut sebelumnya telah beredar di akun-akun yang dikenal sering menyebarkan konten berbasis AI dengan narasi propaganda yang mendukung Iran.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa video tersebut sengaja didaur ulang untuk membangun persepsi seolah-olah terjadi serangan nyata.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) merilis gambar resmi yang menunjukkan bahwa kapal induk tersebut masih beroperasi normal di Laut Arab dalam rangka operasi militer yang sedang berlangsung.
Klaim ini muncul di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026. Eskalasi tersebut mencakup serangan terhadap fasilitas strategis Iran dan balasan berupa serangan rudal, yang memperluas ketegangan hingga ke kawasan Teluk dan mengancam jalur vital seperti Selat Hormuz.
Penyebaran video palsu semacam ini menunjukkan bagaimana disinformasi menjadi bagian dari perang modern, yang tak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga di ruang digital.
(Samirmusa/arrahmah.id)
