BAMAKO (Arrahmah.id) - Pemimpin junta militer Mali, Asimi Goita, akhirnya muncul ke hadapan publik pada Selasa (28/4/2026) malam, tiga hari setelah serangkaian serangan mematikan yang menargetkan situs strategis di seluruh penjuru negeri. Meski mengakui situasi saat ini dalam kondisi sangat serius, Goita menegaskan bahwa pemerintah tetap memegang kendali atas keamanan negara.
Dalam pidato yang disiarkan televisi nasional, Goita menyatakan bahwa langkah-langkah keamanan telah diperketat. Ia menyerukan kebangkitan nasional untuk melawan perpecahan di tengah kekhawatiran publik akan stabilitas rezimnya.
Sebelumnya, absennya Goita selama tiga hari sempat memicu spekulasi liar mengenai keberadaannya, terutama setelah kematian Menteri Pertahanan Sadio Camara dalam serangan bom bunuh diri akhir pekan lalu.
Sebelum berpidato, Goita menerima Duta Besar Rusia untuk Mali, Igor Gromyko, guna memperkuat kemitraan keamanan di tengah penarikan mundur elemen Africa Corps (sebelumnya dikenal sebagai Wagner) dari kota Kidal yang kini dikuasai pemberontak.
Situasi di Mali kian kritis dengan adanya ancaman baru dari kelompok militan. Kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), afiliasi Al-Qaeda, merilis pernyataan video yang mengancam akan mengepung ibu kota, Bamako, yang berpenduduk 4 juta jiwa, dari segala arah.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bamako telah mengeluarkan peringatan keras kepada warganya untuk tetap berada di rumah dan menghindari perjalanan yang tidak perlu, menyusul laporan adanya pergerakan militan di dalam kota.
Skala Serangan Akhir Pekan
Serangan yang terjadi pada Sabtu lalu (25/4) disebut sebagai yang terbesar dalam 15 tahun terakhir. Serangan ini melibatkan aliansi langka antara kelompok militan pro-Al-Qaeda (JNIM) dan pemberontak Tuareg dari Azawad Liberation Front.
Sasaran mencakup Kamp Strategis Kati (markas militer kedua terbesar), area Bandara Internasional Modibo Keita, serta kota-kota penting seperti Kidal, Gao, Mopti, dan Sevare.
Laporan medis menyebut setidaknya 23 orang tewas, termasuk warga sipil dan personel militer.
Kematian Menteri Pertahanan Sadio Camara, yang merupakan arsitek utama hubungan militer Mali-Rusia, menjadi pukulan telak bagi junta. Kini, aliansi antara militan Al-Qaeda dan separatis Tuareg ini mengingatkan banyak pihak pada krisis besar tahun 2012, di mana negara tersebut sempat terpecah dan wilayah utara jatuh ke tangan pemberontak.
Meski saat ini suasana di Bamako dan kota Kati tampak tenang secara tentatif, ketegangan tetap menyelimuti ibu kota di tengah ancaman blokade yang nyata. (zarahamala/arrahmah.id)
