TEHRAN (Arrahmah.id) — Sistem di Iran dikabarkan terkejut dengan serangan yang dilancarkan pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat. Media penyiaran “Israel” menyebutkan, langkah ini dinilai tidak lazim karena serangan dilakukan pada siang hari, bukan pada malam hari sebagaimana pola operasi militer sebelumnya.
Brigadir Jenderal Elias Hanna, pakar militer dan strategi, menjelaskan bahwa unsur kejutan secara strategis di tingkat geopolitik dan militer sebenarnya tidak sepenuhnya hadir, mengingat besarnya pengerahan dan sistem pertahanan yang telah disiapkan. Namun, menurutnya, kejutan terjadi pada sisi operasional dan taktis, terutama dalam jenis target yang disasar.
Dalam keterangannya kepada Al Jazeera, Hanna mengatakan bahwa serangan tidak berfokus pada sistem pertahanan udara sebagaimana lazimnya operasi militer. Sebaliknya, serangan diarahkan secara presisi ke infrastruktur militer “Iran”, dengan penekanan pada ibu kota Teheran dan sejumlah lokasi strategis lainnya.
“Operasi ini tampaknya bertujuan mengurangi kesiapan sistem militer dan keamanan Iran,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan serangan sangat bergantung pada akurasi intelijen. Jika operasi tersebut berhasil mencapai tujuannya, dampaknya bisa melemahkan kesiapan militer “Iran”. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa Pemimpin Tertinggi “Iran” sebelumnya telah menunjuk sejumlah figur pengganti di posisi-posisi sensitif guna memastikan kesinambungan komando militer pascaperang dan gelombang demonstrasi sebelumnya.
Sementara itu, harian Israel Maariv melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Israel mengerahkan Divisi 91 di perbatasan Lebanon serta memanggil pasukan cadangan. Langkah ini disebut sebagai upaya memperkuat keamanan dalam negeri, mengantisipasi kemungkinan eskalasi sebagai respons atas serangan udara tersebut.
Mengapa Dipilih Hari Sabtu?
Dr. Ali Al-A’war, pakar isu Israel, menyatakan bahwa pemilihan hari Sabtu dilakukan secara strategis. Menurutnya, pada hari tersebut aktivitas sipil relatif rendah, sementara publik “Israel” berada dalam kondisi “hampir tenang sepenuhnya”. Hal ini dinilai dapat meminimalkan risiko dampak jika terjadi serangan balasan berupa rudal, termasuk rudal hipersonik dari “Iran”.
Ia mengatakan bahwa front dalam negeri Israel telah menyelesaikan instruksi darurat. Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz juga menegaskan bahwa negaranya berada dalam status siaga maksimal. Ia menyebut operasi tersebut sebagai langkah preventif yang dilakukan dengan koordinasi penuh bersama Amerika Serikat.
Media Israel serta pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengindikasikan bahwa tujuan serangan bukan semata menyasar fasilitas militer, melainkan mengarah pada perubahan rezim di “Iran”. Netanyahu disebut menegaskan bahwa “tidak ada alternatif selain menjatuhkan rezim” sebagai bagian dari target yang diumumkan dalam operasi tersebut.
(Samirmusa/arrahmah.id)
