Memuat...

Trump Kesal 'Israel' Hancurkan Kilang Minyak Iran

Hanoum
Selasa, 10 Maret 2026 / 21 Ramadan 1447 04:01
Trump Kesal 'Israel' Hancurkan Kilang Minyak Iran
Kebakaran kilang minyak Iran. [Foto: BBC]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tidak senang dengan serangan 'Israel' terhadap fasilitas minyak Iran di Teheran karena Washington menilai infrastruktur energi tersebut memiliki nilai strategis dan berpotensi dimanfaatkan setelah konflik berakhir. Ketegangan ini menjadi salah satu perbedaan sikap paling nyata antara Amerika Serikat dan 'Israel' sejak perang melawan Iran meningkat pada akhir Februari.

Dilansir Axios (9/3/2026), serangan udara 'Israel' yang menghantam puluhan depot bahan bakar dan fasilitas energi di Teheran memicu kebakaran besar serta asap tebal yang menyelimuti ibu kota Iran. Operasi tersebut bahkan dilaporkan lebih luas dari yang diperkirakan oleh pejabat Amerika, meskipun 'Israel' sebelumnya telah memberi tahu Washington mengenai rencana serangan itu.

Sejumlah pejabat AS menilai penghancuran infrastruktur energi Iran dapat merugikan kepentingan strategis Washington dalam jangka panjang. Beberapa politisi Amerika, termasuk senator Partai Republik Lindsey Graham, memperingatkan bahwa fasilitas minyak Iran sebaiknya tidak dihancurkan sepenuhnya karena dapat menjadi aset penting jika rezim di Teheran runtuh atau terjadi perubahan politik di negara tersebut.

Serangan terhadap depot bahan bakar itu memicu kebakaran besar di berbagai lokasi di Teheran dan menimbulkan kekhawatiran dampak kesehatan akibat polusi udara serta hujan beracun yang mengandung residu minyak. Organisasi kesehatan global juga memperingatkan kerusakan pada fasilitas energi dapat mencemari air, udara, dan pasokan pangan di wilayah sekitar.

Serangan terhadap sektor energi Iran juga meningkatkan ketegangan global karena pasar minyak bereaksi tajam. Harga minyak dunia sempat melonjak melewati 100 dolar per barel, sementara Iran memperingatkan harga bisa melonjak hingga 200 dolar jika serangan terhadap infrastruktur energinya terus berlanjut.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas. Serangan terhadap fasilitas energi, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis telah memicu aksi balasan di berbagai negara Timur Tengah serta meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur perdagangan energi global seperti Selat Hormuz. (hanoum/arrahmah.id)