Memuat...

China Hanya Mengecam, Mengapa Tak Membela Iran Secara Nyata?

Samir Musa
Rabu, 4 Maret 2026 / 15 Ramadan 1447 17:04
China Hanya Mengecam, Mengapa Tak Membela Iran Secara Nyata?
China membeli sekitar 90% dari ekspor minyak Iran (Reuters).

ARAHMAH.ID – Harian Amerika Serikat, The Wall Street Journal, mempertanyakan sikap China yang dinilai hanya sebatas mengecam serangan militer Amerika Serikat dan “Israel” terhadap Iran tanpa mengambil langkah nyata untuk membela sekutunya tersebut.

Padahal, perang ini berpotensi membawa risiko besar bagi Beijing. Salah satunya adalah ancaman terganggunya pasokan energi, mengingat sebagian besar impor minyak China melewati jalur vital Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menegaskan bahwa serangan Amerika Serikat dan “Israel” terhadap Iran saat perundingan berlangsung merupakan tindakan “tidak dapat diterima”.

Ia juga menyebut bahwa “pembunuhan pemimpin negara berdaulat serta hasutan untuk mengganti rezim adalah tindakan yang sama sekali tidak bisa diterima”, merujuk pada terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada hari pertama perang.

China Memilih Menjaga Jarak

Namun demikian, menurut laporan tersebut, Beijing dinilai tidak memiliki banyak opsi nyata untuk membantu Iran selain pernyataan politik. Para analis menilai China kemungkinan besar akan berupaya menghindari keterlibatan dalam konflik jangka panjang di kawasan Timur Tengah.

China disebut siap bekerja sama dengan pihak mana pun yang nantinya memegang kekuasaan di Iran setelah konflik berakhir.

Pendekatan serupa juga pernah dilakukan Beijing terhadap Venezuela. Ketika Presiden Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat awal tahun ini, China juga hanya melontarkan kecaman tanpa tindakan lebih jauh. Sikap ini dinilai bisa menjadi indikator bagaimana respons Beijing jika Washington mengambil langkah serupa terhadap Kuba, negara yang juga memiliki hubungan erat dengan China.

Surat kabar tersebut memperkirakan bahwa langkah Amerika Serikat yang melemahkan hubungan China dengan mitra-mitranya dapat mengganggu ambisi Beijing dalam membangun blok negara-negara dengan orientasi serupa, sekaligus menantang tatanan global yang dipimpin Barat.

Sisi “Menguntungkan” bagi Beijing

Meski berisiko, perang terhadap Iran juga dinilai memiliki sisi yang menguntungkan bagi para pengambil kebijakan di Beijing.

Konflik ini berpotensi menguras kemampuan militer Amerika Serikat, khususnya persenjataan yang kemungkinan akan digunakan dalam potensi konflik dengan China terkait Taiwan. Selain itu, perang tersebut memberi peluang bagi Beijing untuk mempelajari taktik dan peralatan militer terbaru Washington.

China juga memanfaatkan momentum ini untuk menggambarkan Amerika Serikat sebagai pihak yang menyebabkan dunia kembali pada “hukum rimba”.

Kepentingan Besar China di Teluk

Di sisi lain, The Wall Street Journal menilai kehati-hatian China juga didorong oleh kepentingan ekonominya di kawasan Teluk.

Investasi Beijing di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab disebut jauh lebih besar dibandingkan investasinya di Iran. Jika China secara terbuka membantu Iran menyerang negara-negara tetangganya, langkah itu bisa merusak hubungan strategisnya dengan negara-negara Teluk yang vital bagi kepentingan ekonomi China.

Padahal, hubungan Iran dan China sendiri terbilang erat. Pada 2021, kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi senilai 400 miliar dolar AS untuk jangka 25 tahun. Namun implementasinya berjalan lambat akibat sanksi Amerika Serikat terhadap Iran.

Kedua negara bahkan disebut menggunakan mekanisme kompleks untuk menyamarkan ekspor minyak Iran ke China, termasuk metode pemindahan minyak dari satu kapal ke kapal lain guna menutupi asal muasalnya.

China membeli sekitar 90 persen ekspor minyak Iran. Meski demikian, angka tersebut hanya mencakup sekitar 12 persen dari total impor minyak China secara keseluruhan.

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan pasokan energi, China telah membangun cadangan minyak strategis nasional serta mendorong penggunaan kendaraan listrik dan teknologi lain guna mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi minyak.

(Samirmusa/arrahmah.id)