Memuat...

Misteri di Jantung Teheran: Menelusuri Rumor Pengkhianatan Jenderal Esmail Qaani

Zarah Amala
Jumat, 6 Maret 2026 / 17 Ramadan 1447 11:56
Misteri di Jantung Teheran: Menelusuri Rumor Pengkhianatan Jenderal Esmail Qaani
Kepala Pasukan Quds, Esmail Qaani, difoto saat pemakaman Jenderal Pasukan Quds Abbas Nilforoushan, di Teheran pada Selasa, 15 Oktober 2024 (AFP)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Di tengah berkecamuknya perang besar antara aliansi Amerika Serikat-'Israel' melawan Iran sejak akhir Februari 2026, sebuah isu sensitif mendadak mengguncang stabilitas internal Teheran. Jenderal Esmail Qaani, Komandan Pasukan Quds yang merupakan suksesor Qasem Soleimani, kini menjadi pusat dari rumor paling liar di kawasan dengan tuduhan pengkhianatan di lingkaran terdalam rezim.

Spekulasi ini tidak muncul tanpa sebab. Serangkaian kegagalan intelijen yang mematikan menjadi pemicu utamanya. Peristiwa paling traumatis adalah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada Februari 2026, yang disusul oleh penargetan beruntun terhadap komandan-komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Banyak pihak mulai bertanya-tanya, bagaimana mungkin koordinat rahasia dan lokasi paling aman di Iran bisa ditembus oleh serangan presisi Mossad atau CIA jika tidak ada orang dalam yang membocorkannya?

Lahir di Mashhad, Esmail Qaani bukanlah orang baru dalam jajaran elit militer Iran. Ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di masa awal revolusi dan mengasah kemampuan tempurnya dalam Perang Iran-Irak (1980-1988).

Nama Qaani terseret dalam pusaran ini bukan hanya karena posisinya sebagai penanggung jawab intelijen luar negeri, tetapi juga karena perbedaan gaya kepemimpinannya. Dibandingkan dengan Soleimani yang karismatik, Qaani dikenal lebih birokratis. Ketidakmampuannya mencegah infiltrasi asing ke dalam Unit 840 IRGC dan jaringan Poros Perlawanan sering kali disalahartikan oleh kritikus domestik sebagai bentuk kelemahan, atau lebih buruk lagi, pembiaran yang disengaja.

Laporan dari media seperti The National menyebutkan bahwa Qaani saat ini berada di bawah pengawasan ketat, bahkan dikabarkan tengah menjalani interogasi intensif terkait infiltrasi Mossad. Namun, dalam situasi perang total, garis antara fakta dan propaganda menjadi sangat tipis. Para analis memperingatkan bahwa isu penangkapan Qaani bisa jadi merupakan strategi psychological warfare dari Barat untuk meruntuhkan moral pejuang proksi Iran seperti Hizbullah dan Houtsi.

Di sisi lain, muncul teori penyisiran internal. Dalam sejarah rezim otoriter, ketika kekalahan militer terjadi, pencarian kambing hitam adalah hal lumrah. Mencuatnya isu pengkhianatan Qaani mungkin merupakan upaya faksi lain di dalam IRGC untuk mengalihkan tanggung jawab atas kekalahan di medan tempur.

Hingga saat ini, status Jenderal Qaani tetap menjadi misteri yang simpang siur. Secara administratif, ia masih menjabat sebagai Komandan Pasukan Quds dan namanya tetap dicantumkan dalam pernyataan resmi operasi balasan Janji Setia 4 terhadap Tel Aviv.

Namun, fakta bahwa Qaani jarang terlihat di depan publik sejak eskalasi besar dimulai pada 28 Februari 2026 terus memicu tanda tanya. Apakah ia benar-benar sedang ditahan untuk diinterogasi, ataukah ia sengaja disembunyikan demi keamanan di tengah hujan rudal yang melanda Iran? Satu hal yang pasti, selama bukti fisik berupa kemunculan langsung belum dirilis oleh Teheran, posisi Qaani akan tetap menjadi titik terlemah dalam struktur pertahanan informasi Iran di mata dunia. (zarahamala/arrahmah.id)