Memuat...

“No Kings” Menggema: Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Trump dan Perang atas Iran

Samir Musa
Ahad, 29 Maret 2026 / 10 Syawal 1447 12:40
“No Kings” Menggema: Jutaan Warga AS Turun ke Jalan Tolak Trump dan Perang atas Iran
Jutaan demonstran menyatakan penolakan mereka terhadap serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat bekerja sama dengan “Israel” terhadap Teheran (AFP).

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Pada Sabtu (28/3/2026), gelombang protes besar mengguncang Amerika Serikat, ketika jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk “No Kings” (Tidak Ada Raja), sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump serta perang Amerika-“Israel” terhadap Iran.

Aksi yang berlangsung serentak di berbagai kota besar—mulai dari Washington DC, New York City, Los Angeles hingga Chicago—dipenuhi lautan massa yang membawa poster dan meneriakkan slogan anti-perang.

Para demonstran secara tegas menolak serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama “Israel” terhadap Teheran, yang dinilai memperburuk konflik dan mengancam stabilitas global.

Menurut situs resmi gerakan NoKings, lebih dari 9 juta orang mendaftarkan diri untuk ikut serta dalam aksi yang tersebar di lebih dari 3.100 titik di seluruh 50 negara bagian.

“Hentikan Perang di Iran”

Di ibu kota Washington DC, ribuan orang mengikuti aksi bertajuk “March to the Capitol” yang dimulai dari Memorial Bridge menuju Monumen Washington.

Poster-poster bertuliskan “No Kings”, “Stop the War on Iran”, hingga “Trump Must Go” terlihat mendominasi barisan massa.

Sementara di New York City, demonstran bergerak sepanjang Seventh Avenue menuju Times Square di bawah penjagaan ketat aparat keamanan.

Mereka juga mengangkat isu lain seperti penolakan terhadap embargo terhadap Kuba serta kebijakan luar negeri Washington yang dinilai agresif.

Sejumlah peserta dalam aksi protes “No Kings” di Los Angeles (Reuters).

Meluas ke Eropa hingga Asia

Gelombang penolakan terhadap Trump tidak hanya terjadi di dalam negeri. Aksi serupa juga pecah di berbagai negara, termasuk Prancis, Inggris, Jepang, dan Australia.

Di Paris, ratusan orang—termasuk warga Amerika yang tinggal di sana—berkumpul di Bastille bersama serikat pekerja dan organisasi hak asasi manusia.

Sejumlah spanduk bertuliskan “War for profit, our troops are not for sale” dan “When injustice becomes law, resistance becomes duty” tampak menghiasi aksi tersebut.

Salah satu penyelenggara, Ada Shen, menyebut kebijakan Trump sebagai “perang tanpa arah dan tidak bermoral” serta menilai adanya penyalahgunaan kekuasaan.

Gedung Putih: “Didanai Jaringan Kiri”

Menanggapi aksi tersebut, pihak Gedung Putih menilai demonstrasi itu sebagai “hasil jaringan pendanaan sayap kiri” yang tidak mencerminkan dukungan rakyat secara luas.

Namun, bagi para demonstran, aksi ini merupakan kelanjutan dari gerakan No Kings yang telah muncul sejak 15 Juni 2025—bertepatan dengan ulang tahun ke-79 Trump—sebagai simbol perlawanan terhadap arah kepemimpinan yang dinilai semakin otoriter dan militeristik.

Dipicu Kebijakan Imigrasi dan Kekerasan Aparat

Gelombang protes juga dipicu oleh kebijakan imigrasi keras pemerintahan Trump. Sebelumnya, ribuan mahasiswa dan pekerja telah turun ke jalan sejak Januari lalu.

Kemarahan publik memuncak setelah insiden penindakan aparat di Minneapolis yang menewaskan seorang perempuan bernama Reni Good.

Dalam sejumlah aksi, demonstran meneriakkan slogan keras seperti: “Tidak untuk ICE… tidak untuk rasisme… tidak untuk fasisme Amerika!”

Bahkan, sejumlah massa juga mengecam kelompok supremasi kulit putih seperti Ku Klux Klan dalam orasi mereka.

Ribuan demonstran di Lincoln Memorial, Washington, selama hari nasional aksi “No Kings” (AFP).

Aksi Terbesar Sejak Trump Kembali Berkuasa

Penyelenggara menyebut sekitar 7 juta orang turun dalam aksi damai di lebih dari 2.700 kota—angka yang meningkat tajam dibandingkan demonstrasi sebelumnya.

Di New York City saja, kepolisian mencatat sekitar 100 ribu peserta turun ke jalan tanpa adanya kerusuhan maupun penangkapan.

Gelombang “No Kings” pada 28 Maret 2026 ini menjelma menjadi salah satu gerakan perlawanan terbesar terhadap Trump sejak ia kembali menjabat pada awal 2025—sebuah sinyal kuat bahwa polarisasi di Amerika kian dalam, di tengah bayang-bayang konflik global yang semakin memanas.

(Samirmusa/arrahmah.id)