Memuat...

Rudal Pemecah Hujani Tel Aviv, Sistem Pertahanan Udara 'Israel' Kewalahan

Zarah Amala
Rabu, 25 Maret 2026 / 6 Syawal 1447 10:31
Rudal Pemecah Hujani Tel Aviv, Sistem Pertahanan Udara 'Israel' Kewalahan
Pecahan rudal inshithariya Iran dilaporkan menghantam sedikitnya delapan lokasi di wilayah Tel Aviv (foto: tangkapan video)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Eskalasi militer antara Iran dan koalisi AS-'Israel' memasuki fase baru yang lebih teknis pada Rabu (25/3/2026). Iran dilaporkan mulai menggunakan rudal inshithariya (rudal pemecah/fragmentasi) yang mampu pecah menjadi beberapa hulu ledak saat masih di udara, menciptakan tantangan serius bagi sistem pertahanan udara 'Israel'.

Pecahan rudal tersebut dilaporkan menghantam sedikitnya delapan lokasi di wilayah Tel Aviv dan sekitarnya, termasuk area padat penduduk seperti Bnei Brak dan Givat Shmuel. Layanan darurat Magen David Adom mengonfirmasi setidaknya 12 warga terluka akibat reruntuhan bangunan dan serpihan proyektil dalam serangan fajar tersebut.

Para ahli militer mencatat bahwa rudal jenis baru ini dirancang untuk menipu radar. Satu rudal utama pecah menjadi empat hingga delapan hulu ledak kecil (masing-masing seberat 100 kg), yang memaksa sistem seperti David’s Sling dan Iron Dome memproses terlalu banyak target dalam waktu bersamaan (saturation attack).

Di Tel Aviv, sebuah gedung apartemen mengalami kerusakan parah setelah terkena hantaman langsung pecahan rudal. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di beberapa titik kebakaran yang dipicu oleh ledakan beruntun.

Serangan rudal canggih Iran ini diluncurkan bersamaan dengan puluhan roket dari Lebanon Selatan yang menyasar wilayah Galilea dan Haifa. Taktik ini diduga sengaja dilakukan untuk membuyarkan fokus konsentrasi pertahanan udara 'Israel' di wilayah Utara dan Tengah.

Sebagai respons instan, jet tempur 'Israel' dan AS dilaporkan menggempur wilayah Varamin, selatan Teheran. Serangan tersebut menargetkan unit komando peluncur rudal dan fasilitas industri militer, dengan laporan awal menyebutkan sedikitnya 12 orang tewas di lokasi tersebut.

Teheran menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari gelombang ketujuh serangan mereka. Hingga saat ini, pihak Iran secara resmi menolak segala bentuk perundingan diplomatik selama serangan udara ke wilayah mereka masih berlanjut.

Penggunaan teknologi rudal pemecah ini menunjukkan pergeseran strategi Iran dari kuantitas (banyaknya rudal) menjadi kualitas (efektivitas menembus pertahanan). Dengan Selat Hormuz yang masih tertutup sebagian dan harga minyak dunia yang fluktuatif, penggunaan senjata jenis baru ini menambah tekanan psikologis bagi warga sipil di kedua belah pihak. (zarahamala/arrahmah.id)