KABUL (Arrahmah.id) - Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, menyatakan keprihatinannya atas bentrokan dan ketegangan yang terus berlanjut antara Afghanistan dan Pakistan, mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dari konfrontasi militer.
Zakharova menyarankan kedua pihak untuk menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog.
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengatakan: “Kami prihatin atas berlanjutnya bentrokan bersenjata di sepanjang perbatasan Afghanistan-Pakistan. Dalam beberapa hari terakhir, konfrontasi bersenjata yang melibatkan pesawat dan senjata berat telah tercatat di seluruh wilayah perbatasan yang dihuni oleh suku-suku Pashtun. Warga sipil dirugikan, termasuk pengungsi Afghanistan di Pakistan dan Iran. Sekali lagi, kami menyerukan kepada Kabul dan Islamabad untuk menahan diri dari konfrontasi militer dan menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog bersama berdasarkan rasa hormat.”
Pada saat yang sama, enam organisasi hak asasi manusia internasional, dalam pernyataan bersama yang merujuk pada meningkatnya ketegangan antara Kabul dan Islamabad, memperingatkan bahwa berlanjutnya situasi tersebut dapat mengancam stabilitas regional dan konektivitas ekonomi, lansir Tolo News (5/3/2026).
Menyatakan keprihatinan atas kerugian yang dialami warga sipil, organisasi-organisasi tersebut mendesak kedua belah pihak untuk:
- Memprioritaskan perlindungan warga sipil
- Menyetujui gencatan senjata segera dan terlibat dalam dialog inklusif untuk memastikan perdamaian abadi
- Memperkuat kerja sama ekonomi dan dukungan sosial untuk mengurangi ketidakstabilan
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin politik dan anggota senior partai-partai politik negara itu untuk membahas bentrokan dengan Afghanistan dan situasi di Iran.
Menurut laporan media Pakistan, beberapa partai politik, termasuk Jamiat Ulema-e-Islam, yang dipimpin oleh Maulana Fazlur Rehman, menyarankan selama pertemuan tersebut agar pemerintah Pakistan terlibat dalam dialog dengan Afghanistan.
Pada saat yang sama, Hafiz Naeem ur Rehman, pemimpin Jamaat-e-Islami Pakistan, juga membahas pengakhiran konflik dengan Afghanistan selama pertemuan terpisah dengan perdana menteri negara tersebut.
Analis politik Janat Fahim Chakari mengatakan: “Pemerintah militer Pakistan tidak mendengarkan oposisi atau rakyat Pakistan, karena sebagian pendapatannya berasal dari sektor perang dan proyek-proyek terkait.”
Perkembangan ini terjadi ketika duta besar Cina, dalam pertemuan dengan Amir Khan Muttaqi, menteri luar negeri Imarah Islam Afghanistan, menyatakan bahwa beberapa aktor eksternal berupaya untuk merusak stabilitas regional.
Menurutnya, negara-negara di kawasan tersebut hanya dapat melawan upaya tersebut melalui koordinasi dan kerja sama. (haninmazaya/arrahmah.id)
