Memuat...

Alarm Nuklir, IAEA Sebut Serangan di Bushehr Bisa Picu Bencana Radiasi Lintas Negara

Zarah Amala
Jumat, 27 Maret 2026 / 8 Syawal 1447 10:15
Alarm Nuklir, IAEA Sebut Serangan di Bushehr Bisa Picu Bencana Radiasi Lintas Negara
Gedung reaktor di pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr, yang dibangun oleh Rusia (Getty)

WINA (Arrahmah.id) - Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, mengeluarkan peringatan darurat mengenai ancaman kecelakaan nuklir skala besar di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, Iran. Peringatan ini muncul setelah serangkaian serangan proyektil militer dilaporkan jatuh di area sekitar pembangkit tersebut, termasuk insiden terbaru pada Selasa malam (24/3/2026).

Grossi menegaskan bahwa kerusakan sekecil apa pun pada infrastruktur utama Bushehr dapat memicu insiden radioaktif serius yang akan mencemari wilayah luas di dalam maupun luar Iran. Ia mendesak semua pihak yang bertikai untuk menahan diri dan menghormati tujuh pilar utama keselamatan nuklir di tengah konflik bersenjata.

Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) menuduh Amerika Serikat dan 'Israel' sebagai dalang di balik jatuhnya proyektil di area terlarang PLTN Bushehr. Meskipun proyektil tersebut dilaporkan tidak menyebabkan kerusakan teknis atau korban jiwa, IAEA mengonfirmasi bahwa insiden ini telah terjadi berulang kali dalam dua pekan terakhir.

Moskow, yang membangun fasilitas tersebut dan masih menempatkan tenaga ahli di sana, menyebut serangan di dekat zona nuklir sebagai tindakan tidak bertanggung jawab. Direktur Jenderal Rosatom, Alexey Likhachev, terus menjalin komunikasi intensif dengan IAEA untuk memantau keselamatan staf Rusia di lokasi.

Jika terjadi kebocoran, pola angin di Teluk bisa membawa material radioaktif ke negara-negara tetangga, mengancam ekosistem laut dan kesehatan jutaan warga di kawasan tersebut. PLTN Bushehr adalah satu-satunya pembangkit nuklir operasional di Iran dengan kapasitas 1.000 MW. Meskipun kontribusinya kecil terhadap total kebutuhan listrik nasional, peran strategis dan risiko ekologisnya menjadikannya titik paling sensitif dalam perang ini.

IAEA menekankan pentingnya memberikan lingkungan kerja yang aman bagi para staf nuklir agar mereka dapat menjalankan prosedur keselamatan kritis tanpa tekanan militer.

PLTN Bushehr kini berada di tengah garis api. Penggunaan proyektil di area sensitif tersebut menunjukkan bahwa aturan perang konvensional mulai diabaikan. Jika dinding reaktor atau sistem pendingin terkena hantaman langsung, dunia mungkin akan menghadapi krisis nuklir terburuk sejak insiden Fukushima atau Chernobyl, yang akan mengubah wajah konflik ini dari perang regional menjadi bencana kemanusiaan global. (zarahamala/arrahmah.id)