Memuat...

Bongkar Operasi Rahasia: Peretasan Kamera, “Peta Kehidupan”, dan Koordinasi AS–“Israel” di Balik Tewasnya Ali Khamenei

Samir Musa
Selasa, 3 Maret 2026 / 14 Ramadan 1447 20:45
Bongkar Operasi Rahasia: Peretasan Kamera, “Peta Kehidupan”, dan Koordinasi AS–“Israel” di Balik Tewasnya Ali Khamenei
Serangan itu terjadi ketika Khamenei berada di luar bunker perlindungan bawah tanahnya yang diperkuat, dan memilih menggelar pertemuan di kantornya seperti biasa, menurut laporan (Reuters).

TEHRAN (Arrahmah.id) – Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut bukan hasil kebetulan intelijen semata. Operasi tersebut, menurut laporan investigasi media Inggris Financial Times, merupakan puncak dari bertahun-tahun infiltrasi siber, analisis algoritma matematis, dan kampanye spionase senyap yang berujung pada serangan cepat yang mengguncang pusat kekuasaan di Teheran.

Berdasarkan wawancara dengan sejumlah pejabat Israel, laporan itu menyebut bahwa “Israel” membangun jaringan intelijen terintegrasi selama bertahun-tahun untuk membuka jalan bagi pembunuhan tersebut. Namun, keputusan akhir untuk mengeksekusi operasi disebut diambil atas pertimbangan politik, melalui koordinasi dengan Washington.

Jalan-Jalan Teheran Diretas

Menurut laporan itu, selama beberapa tahun terakhir “Israel” berhasil meretas sebagian besar kamera pengawas lalu lintas di ibu kota Iran. Salah satu kamera yang terpasang di dekat Jalan Pasteur—lokasi di mana Khamenei dilaporkan dibunuh—memiliki nilai strategis tinggi.

Dari sudut kamera tersebut, petugas intelijen dapat memantau pergerakan para pengawal dan sopir di sekitar Khamenei serta pejabat tinggi lainnya. Mereka mempelajari rutinitas harian, pola kedatangan, hingga detail waktu pergerakan.

Data visual itu kemudian dienkripsi dan dikirim ke server di “Israel”, untuk dianalisis menggunakan algoritma kompleks dan metode seperti analisis jaringan sosial—sebuah pendekatan matematis untuk memetakan hubungan antarindividu dan entitas guna membaca pola serta perilaku.

Hasilnya adalah pembangunan “peta kehidupan” yang sangat rinci. Peta ini mencakup identitas pejabat yang dilindungi masing-masing pengawal, alamat tempat tinggal mereka, rute perjalanan, tugas yang diemban, hingga menit kedatangan mereka ke lokasi kerja.

Sumber yang dikutip menyebut, kedalaman informasi itu memungkinkan intelijen “Israel” mengidentifikasi pengambil keputusan utama dalam jaringan tersebut, termasuk siapa saja “target” yang harus dieliminasi. Bahkan perubahan kecil dalam rutinitas harian dapat dibaca sebagai indikasi adanya pertemuan khusus atau kehadiran tokoh penting di lokasi tertentu.

Seorang pejabat intelijen “Israel” yang masih aktif bahkan mengatakan, “Kami mengenal Teheran sebagaimana kami mengenal jalan-jalan di Yerusalem.”

Laporan itu menyebut operasi ini merupakan hasil koordinasi antara Unit 8200 dan badan intelijen luar negeri “Israel”, Mossad.

Momen Penentuan

Meski teknologi memainkan peran penting, pembunuhan Khamenei disebut sebagai keputusan politik tingkat tinggi. Pejabat intelijen “Israel”, baik yang masih aktif maupun mantan, menyebut ada tiga faktor utama yang mendorong keputusan tersebut.

Faktor pertama adalah keberadaan Khamenei bersama “sejumlah besar pimpinan tinggi Iran” di satu tempat dan waktu yang sama. “Israel” bersama CIA memperkirakan bahwa memburu para pemimpin setelah perang resmi dimulai akan jauh lebih sulit.

Seorang pejabat menyebut bahwa Khamenei sebenarnya jarang bersembunyi di bunker bawah tanah dan tampak “siap untuk syahid”, meskipun belakangan menjadi lebih berhati-hati. Ia memiliki dua tempat perlindungan bawah tanah. “Jika ia berada di sana, ‘Israel’ tidak akan mampu menjangkaunya dengan bom yang dimiliki,” ujar sumber tersebut.

Faktor kedua adalah konfirmasi dari seorang agen CIA mengenai waktu pasti pertemuan pada hari Sabtu. Disebutkan bahwa rencana serangan telah siap selama berbulan-bulan, namun Tel Aviv dan Washington menunggu momentum yang tepat, meskipun perundingan dijadwalkan terus berlangsung pada pekan yang sama saat operasi dilaksanakan.

Menurut doktrin “Israel”, pembunuhan terhadap tokoh tingkat tinggi harus dikonfirmasi oleh dua perwira senior yang bekerja secara independen, untuk memastikan akurasi dan peluang keberhasilan operasi.

Faktor ketiga adalah perubahan paradigma. Setelah peristiwa 7 Oktober 2023 dan operasi militer yang menyusul, pembunuhan terhadap pemimpin asing disebut tidak lagi menjadi “garis merah” bagi “Israel”. Mantan pejabat Mossad, Sima Shine, mengatakan bahwa keberanian “Israel” meningkat secara signifikan.

“Dalam bahasa Ibrani ada pepatah: ‘Dengan makanan datanglah selera’. Artinya, semakin banyak yang Anda miliki, semakin besar keinginan untuk mendapatkan lebih,” ujarnya.

Serangan dan Peran AS

Menjelang serangan, “Israel” dilaporkan melumpuhkan 12 menara komunikasi seluler di sekitar Jalan Pasteur. Langkah ini menyebabkan sejumlah telepon tampak sibuk saat dihubungi, sekaligus menghambat kemungkinan peringatan dini kepada tim pengamanan.

Laporan itu juga menyebut bahwa Amerika Serikat berperan langsung dalam membuka jalan bagi jet-jet tempur “Israel” melalui serangan siber yang melumpuhkan kemampuan deteksi dan komunikasi Iran. Operasi disebut diluncurkan atas perintah langsung Presiden AS saat itu, Donald Trump.

Jet-jet tempur “Israel” yang terbang berjam-jam demi memastikan ketepatan waktu, dilaporkan menembakkan sekitar 30 amunisi jenis “Sparrow” ke kompleks tempat Khamenei berada.

(Samirmusa/arrahmah.id)