Rajab adalah bulan mulia, kedatangannya selalu disambut dengan suka cita karena menjadi gerbang menuju Ramadan. Pada bulan ini banyak peristiwa besar dan bersejarah bagi umat Islam, salah satunya Isra mikraj Nabi saw. dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa dan Sidratul Muntaha.
Isra mikraj bukan hanya sekedar perjalanan nabi saw. ke langit, dan turunnya perintah salat lima waktu. Ibadah paling utama yang menjadi penghubung antara hamba dan penciptanya sekaligus tiang agama. Lebih dari itu, peristiwa ini semestinya juga dimaknai sebagai gerbang perubahan politik umat. Sebab, tidak lama setelah peristiwa agung itu, tepatnya tahun ke 13 setelah kenabian, Rasulullah saw. mendapatkan pertolongan dari kaum Aus dan Khazraj yang dikenal dengan Baiat Aqabah II. Sebuah momen yang bersifat politik dan terkait dengan kepemimpinan dan kekuasaan. Bisa dikatakan bahwa Isra Mikraj merupakan titik awal perjalanan kaum muslimin menuju tegaknya sistem Islam.
Peristiwa agung Isra Mikraj tidak semestinya hanya untuk dikenang dan menjadi sejarah, tetapi harus dimaknai secara mendalam dan menancap dalam iman setiap muslim. Seruan Allah Taala berupa salat langsung beliau laksanakan dan sampaikan kepada umat. Hal ini mengindikasikan bahwa perintah Allah wajib dilaksanakan oleh setiap hamba. Rasulullah saw. bersabda:
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah salat.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim maksud dari hadis tersebut bukan hanya salat sebagai ibadah ritual, tetapi sebagai kinayah (ungkapan simbolik) merepresentasikan penegakan agama dan hukum Allah secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat, bukan hanya gerakan ibadah.
Sayang, saat ini peristiwa agung Isra Mikraj tereduksi menjadi hanya sebatas aspek seremonial dan menghilangkan makna politis dan ideologinya. Umat telah terwarnai oleh sistem sekuler demokrasi yang menggantikan peran Allah Taala dalam mengatur kehidupan. Paradigma ini menempatkan kedaulatan di tangan manusia, ketika hukum buatan manusia menggantikan aturan Allah, maka syariat sebagai sumber hukum tidak lagi diinginkan. Islam hanya dipraktikkan sebatas ibadah, sedangkan kehidupan masyarakat secara umum tunduk pada aturan yang dibuat manusia.
Akibatnya, kerusakan struktural terjadi di mana-mana, baik dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Kemiskinan, penjajahan di Palestina, kelaparan di Sudan, serta penguasaan SDA oleh Asing di negeri-negeri muslim hanyalah secuil bukti kerusakan jika umat meninggalkan aturan Allah. Semenjak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah kaum muslim kehilangan sosok pemersatu umat, hidup dalam naungan kapitalisme yang menjadikan materi sebagai tolok ukur kehidupan. Negeri-negeri muslim menjadi pasar eksploitasi, baik dari segi kebijakan politik maupun SDA. Alhasil, umat tercerai-berai menjadi negara bangsa (nation state) yang tidak memiliki kekuatan dalam percaturan politik global.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat memiliki gambaran yang utuh dalam memaknai Isra Mikraj, agar kita dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya katalisator dalam mengembalikan peradaban Islam. Peristiwa agung itu semestinya menjadi momentum untuk meneguhkan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba, yakni untuk senantiasa mengupayakan ketaatan yang menyeluruh dalam menjalankan syariat-Nya. Memahami bahwa Isra Mikraj adalah perjalanan spiritual Nabi saw. yang dengannya turun perintah salat yang Allah tetapkan langsung dari langit. Dan mengingatkan kita bahwa peristiwa itu bukan hanya untuk dikenang, namun menjadi pedoman dalam menegakkan syariat Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Sementara, salat berjamaah Rasulullah saw. bersama para nabi dalam Isra Mikraj merupakan miniatur kepemimpinan Islam. Yang menggambarkan bahwa seorang Imam wajib taat kepada Allah dan jamaah pun berkewajiban menaati pemimpinnya selama ia taat kepada Allah. Hal ini merepresentasikan hubungan ideal antara pemimpin dengan rakyat. Penguasa wajib menegakkan syariat dan amanah, sedangkan umat taat dalam kebaikan, mendukung ketika dia adil, dan mengingatkan ketika ia salah.
Sejarah Islam mencatat, Islam pernah berjaya dan menguasai peradaban dunia. Kepemimpinan Islam bukan hanya sekedar jabatan, tetapi amanah, dan Rasulullah saw. adalah teladan terbaik. Beliau membina para sahabat dengan akidah Islam sehingga mereka memiliki keimanan yang kuat dan siap menjadi pemimpin umat. Di Madinah beliau membangun pemerintahan Islam dengan menerapkan aturan Allah secara menyeluruh. Perjuangan itupun kemudian dilanjutkan oleh para sahabat dan penguasa-penguasa Islam, mulai dari bani Ummayah, Abbasiyah, Utsmaniyah, hingga berakhir pada 27 Rajab 1342 H ( 3 Maret 1924 M)
Oleh karena itu, Rajab dan Isra Mikraj sesungguhnya adalah momentum untuk mengingat kembali pentingnya umat Islam hidup di bawah satu kepemimpinan yang menegakkan aturan Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan. Karena hanya dengan penerapan hukum Islam secara menyeluruh lah rahmat bagi semesta alam akan benar-benar terealisasi. Hanya saja tegaknya kepemimpinan Islam bukan hanya ditunggu dengan berpangku tangan, tetapi butuh perjuangan dengan mengkaji Islam kafah dan bersama-sama mendakwahkannya di tengah umat. Wallahua'lam bis shawwab
