Memuat...

'Israel' Bersiap Hadapi Kemungkinan Kembalinya Pertempuran di Jalur Gaza

Zarah Amala
Jumat, 6 Februari 2026 / 19 Syakban 1447 10:53
'Israel' Bersiap Hadapi Kemungkinan Kembalinya Pertempuran di Jalur Gaza
Operasi sporadis 'Israel' di Gaza bisa menjadi hal yang biasa dalam beberapa tahun mendatang (Associated Press)

GAZA (Arrahmah.id) - 'Israel' dikabarkan tengah bersiap menghadapi kemungkinan kembalinya pertempuran di Jalur Gaza. Sejumlah indikator dari pejabat sipil maupun militer muncul dengan dalih kegagalan dalam melucuti senjata Hamas.

Menurut laporan surat kabar Yedioth Ahronoth, tentara 'Israel' mulai mendekati tahap pemanggilan pasukan cadangan guna mengantisipasi pecahnya kembali perang, seiring dengan klaim bahwa Hamas tengah membangun kembali posisi-posisi militernya. Pejabat militer 'Israel' memprediksi bahwa Hamas akan terus berupaya menyerang pasukan mereka meskipun gencatan senjata masih berlaku, termasuk klaim bahwa gerakan tersebut telah menunjuk komandan-komandan baru untuk menggantikan mereka yang gugur di medan perang.

Para perwira senior 'Israel' meyakini bahwa operasi militer yang terputus-putus kemungkinan besar akan menjadi norma baru dalam beberapa tahun ke depan sebagai upaya sistematis untuk merusak kemampuan Hamas dalam melakukan pembangunan kembali. Penilaian militer menyebutkan bahwa Hamas tidak akan menyerahkan senjatanya secara sukarela atau membiarkan jaringan terowongannya dihancurkan. Dinas keamanan internal, Shin Bet, dilaporkan telah memperingatkan para pemimpin politik dalam pertemuan tertutup bahwa Hamas mulai memulihkan kekuatan militernya, termasuk memulai kembali produksi roket, senjata, dan alat peledak rahasia.

Guna mendukung rencana tersebut, tentara 'Israel' dilaporkan telah menyiapkan skema baru untuk mengevakuasi warga sipil sebelum meluncurkan operasi darat berskala besar yang direncanakan terjadi akhir tahun ini. Rencana tersebut berfokus pada pemindahan paksa warga sipil ke dalam wilayah Jalur Gaza di sebelah timur "Garis Kuning". Pejabat militer juga meyakini bahwa aliran bantuan kemanusiaan saat ini secara diplomatis dapat memberikan "ruang gerak" bagi 'Israel' untuk menepis tuduhan kelaparan massal jika permusuhan kembali pecah di masa depan. Selain itu, mereka menuduh Hamas semakin sering melanggar gencatan senjata dengan mengirim elemen bersenjata maupun tidak bersenjata menuju Garis Kuning.

Sejalan dengan hal itu, pemimpin oposisi dari partai Kamp Negara, Benny Gantz, menyatakan bahwa sudah tiba waktunya bagi 'Israel'untuk melintasi Garis Kuning setelah berbulan-bulan diskusi mengenai pelucutan senjata Hamas tidak membuahkan hasil. Gantz menegaskan bahwa wilayah Khan Yunis memiliki status yang sama dengan Jenin, sehingga Hamas tidak boleh diberikan kekebalan di balik Garis Kuning. Ia mengklaim 'Israel' tidak bisa menerima kendali Hamas atas separuh wilayah Jalur Gaza dan menuduh gerakan tersebut tidak akan melepaskan kekuasaan secara sukarela. Gantz mengancam bahwa 'Israel' terpaksa akan membubarkan Hamas sepenuhnya, terutama karena saat ini sudah tidak ada lagi tawanan 'Israel' yang ditahan di Gaza yang dapat menjadi penghalang operasi militer.

Di sisi lain, komando tinggi militer 'Israel' dilaporkan telah mengajukan serangkaian alternatif strategi penggunaan kekuatan di Gaza yang menyerupai "Model Lebanon". Strategi ini mencakup serangan udara rutin ke Jalur Gaza untuk menggagalkan aktivitas penguatan kekuatan dan rekonstruksi oleh Hamas, serupa dengan operasi yang dilakukan terhadap Hizbullah. Meskipun militer saat ini memberikan kesempatan bagi upaya non-militer untuk melucuti senjata Hamas, mereka tetap menyetujui rencana ofensif jika langkah diplomatis tersebut gagal. Pejabat militer senior mengklaim bahwa dalam beberapa minggu, tentara 'Israel' akan mampu merebut kembali kendali penuh atas Jalur Gaza dengan operasi yang lebih cepat dan lebih tegas dibandingkan sebelumnya. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazaserangan kembali