WASHINGTON (Arrahmah.id) – Situs berita Axios melaporkan bahwa beberapa penasihat J.D. Vance, Wakil Presiden Amerika Serikat, meyakini adanya upaya dari pihak “Israel” untuk menggagalkan upayanya dalam menggelar negosiasi yang sukses dengan Iran.
Dalam laporan tersebut disebutkan, penasihat Vance percaya sebagian pejabat “Israel” menentangnya karena dianggap tidak cukup keras dalam sikapnya terhadap Iran. Namun, pihak “Israel” membantah tudingan ini, dikutip dari Al Jazeeera (27/3).
Laporan itu menambahkan bahwa Vance kini tengah bersiap mengambil tanggung jawab terbesar dalam kariernya, yakni memimpin upaya AS mengakhiri perang yang awalnya ia sendiri khawatir akan terlibat di dalamnya.
Vance dilaporkan telah melakukan sejumlah panggilan telepon dengan Perdana Menteri Benyamin Netanyahu serta bertemu dengan sekutu AS di negara-negara Teluk mengenai konflik yang sedang berlangsung. Ia juga terlibat dalam pembicaraan tidak langsung dengan pejabat Iran dan diperkirakan akan menjadi kepala negosiator AS dalam perundingan perdamaian.
Sumber-sumber AS dan “Israel” menyebutkan bahwa Vance sangat skeptis terhadap penilaian optimis “Israel” sebelum perang, dan memperkirakan konflik ini akan berlanjut beberapa minggu ke depan.
Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan peran Vance dalam pertemuan kabinet pada Kamis lalu, dan meminta wakil presidennya itu memberikan pembaruan mengenai Iran. Dalam pertemuan itu, Vance bekerja bersama Steve Witkoff, utusan AS untuk Timur Tengah, dan Jared Kushner, menantu Trump.
Pejabat Gedung Putih menyebutkan bahwa posisi tinggi Vance dalam pemerintahan dan catatan penentangannya terhadap konflik terbuka membuatnya lebih menarik bagi Iran dibanding Witkoff dan Kushner, yang memimpin dua putaran perundingan sebelumnya yang gagal.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan, “Jika Iran tidak bisa mencapai kesepakatan dengan Vance, mereka tidak akan mendapatkan kesepakatan. Ia adalah yang terbaik yang bisa mereka dapatkan.”
Sejak 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan “Israel” terlibat konflik dengan Iran, yang merespons dengan meluncurkan ratusan rudal ke target “Israel” dan apa yang diklaimnya sebagai kepentingan AS di kawasan. Beberapa serangan juga menimpa fasilitas sipil di negara-negara Teluk, menyebabkan kerusakan dan korban jiwa.
Selain itu, Iran sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan dunia, dan menarget kapal yang mencoba melintasinya dengan rudal, ranjau, dan drone, yang memicu ketidakstabilan harga minyak global.
(Samurmusa/arrahmah.id)
