Listrik dan air adalah kebutuhan mendasar bagi manusia. Kebutuhan ini sebagai kebutuhan primer yang pemenuhannya tidak bisa diabaikan begitu saja apalagi ditunda. Persoalan pengadaan listrik dan pemenuhan air bersih di setiap wilayah di Indonesia baik secara nasional atau daerah adalah permasalahan yang sangat penting.
Namun realitas di lapangan masih ada saja di wilayah Indonesia khususnya bagian pelosok di negeri ini masih sangat jauh dan minim dari jangkauan listrik dan air dan ternyata persoalan tersebut sudah terjadi berlangsung lama. Dilansir Detiksultra.com (11/1/2026) seorang warga berasal dari Sulawesi Tenggara berinisial A menyampaikan keluhannya terkait minimnya listrik dan air bersih yang ada di desa Kogholifano, Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Muna, minimnya listrik dan air bersih telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu dan berlangsung hingga saat ini.
Ia membeberkan, selama ini warga hidup dalam kegelapan tanpa penerangan yang memadai dengan menggunakan lampu seadanya, seperti lampu tembok dan senter cas. Untuk senter, warga harus numpang tetangga yang memiliki genset untuk mengisi daya. Begitu pula dengan air bersih, untuk memasak dan mandi, para warga menggunakan air hujan, dengan cara memasang wadah sebagai penampung air. Kami sangat kesusahan air bersih. Mau mandi saja harus ditakar. Begitu pun memasak harus menggunakan air hujan,” keluhnya.
Jelas, semua orang paham bahwa listrik dan air bersih merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan manusia. Tentu persoalan minimnya listrik dan air bersih di daerah adalah tugas dari pejabat baik pusat maupun daerah. Tentu hal tersebut tidak boleh dianggap sebelah mata melainkan harus ada tindakan jelas terkait pengadaan air bersih dan pengelolaan listrik hingga sampai ke wilayah daerah pelosok.
Namun, jika disadari hadirnya para pemerintah ataupun pejabat di wilayah ini lagi-lagi tidak serius untuk memberikan dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Berkiblat dari realitas kondisi hari ini nampak jelas bahwa pemerintah tidak serius mengurusi urusan rakyatnya. Dapat dikatakan pemerintah telah gagal untuk memenuhi pemenuhan listrik dan air bersih padahal semestinya pemenuhan air bersih dan listrik ini sudah menjadi tugas tanggung jawab utama negara untuk memberikan pengadaan kebutuhan primer bagi rakyatnya. Maka dari itu negara harus mengerahkan segenap daya dan upaya mengeluarkan dana serta teknologi yang merata untuk memberikan penyediaan air bersih yang berkesinambungan dan pengadaan listrik yang memadai.
Indonesia dengan negeri kekayaan yang sumber daya alamnya melimpah ruah termasuk salah satu penghasil terbesar batubara di dunia, namun faktanya tak mampu menjamin kesejahteraan rakyat. Begitu halnya dengan sumber mata air yang melimpah ruah dari titik wilayah pegunungan yang sangat banyak ternyata tidak mampu memberikan pemenuhan air bersih yang merata bagi rakyatnya. Adanya krisis listrik dan air sebenarnya kenapa bisa terjadi? Apakah hasil sumber daya alam yang ada di Indonesia semakin menipis atau terjadi kekurangan energi? atau apakah rusaknya tata kelola sistem kapitalis yang salah?.
Inilah kondisi realitas yang terjadi di negeri-negeri hari ini yang menerapkan aturan sistem kapitalisme dengan mekanisme pasar bebas. Artinya, siapapun bisa menguasai apa saja selama memilki modal. Jika ditelusuri sumber daya alam di Indonesia itu tidak habis ataupun kekurangan melainkan ada kecurangan dan rusaknya tata kelola yang diemban oleh orang-orang kapitalis. Artinya pengelolaan sumber daya alam yang ada di Indonesia baik batubara ataupun sumber mata air hari ini dikelola sesuai dengan kepentingan dan keuntungan para kapitalis, sementara untuk masyarakat tidak mendapatkan keuntungan malah kesengsaraan.
Dalam sistem kapitalisme sumber daya alam dikelola oleh swasta artinya hanya dipergunakan bagi segelintir orang saja untuk menikmati keuntungan dari sumber daya alam tersebut. Jika swasta yang mengelola batubara sebagai sumber utama bahan bakar dari listrik dengan seenaknya mengeksploitasi batu bara tersebut, terlihat jelas pastilah keuntungan yang dikejar. Sementara negara hanyalah label yang sekedar berperan sebagai regulator yang mengatur para kapitalis aman pada posisinya sementara kesejahteraan rakyatnya sendiri di nomor duakan.
Sistem kapitalisme memiliki wajah yang buruk karena dalam pandangan sistem kapitalisme hanya meraih keuntungan dan kepentingan. Dan yang menjadi korban selalu rakyat atas keserakahan bagi kaum kapitalis. Rakyat dipaksa dibebankan untuk membayar biaya air dan listrik dengan harga yang fantastic.
Selain itu, pemerintah ketika menyelesaikan masalah krisis yang terjadi hari ini tidak mengambil solusi yang mengakar sampai kepada pokok masalahnya karena kembali lagi pada pola pikir kapitalis yang hanya mengejar keuntungan materi belaka.
Tidak seperti di dalam sistem islam yang adil dan mensejahterakan dalam mengatur segala hal. Sebab aturan yang diambil dalam islam adalah aturan yang benar berasal dari sang pencipta yakni standarnya dilandaskan kepada Al-quran dan sunnah.
Pada sistem Islam memandang bahwa air dan listrik sebagai hajat hidup umat. Maka dari itu air dan listrik tidak boleh diprivatisasi atau diswastanisasi sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
"Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: Padang, Air dan Api". (HR. Abu Daud)
Maka jelas dari hadis tersebut, menjelaskan bahwa air dan listrik adalah hak kepemilikan umum. Harta kepemilikan umum adalah milik umat bukan milik suatu lembaga, swasta atau perorangan. Dalam mengelola air dan Listrik Negara Islam menggunakan dana secara maksimal agar layak dikonsumsi dan dirasakan manfaatnya oleh umat. Dalam Islam juga sudah mengatur tentang tata kelola sumber daya alam untuk dipergunakan dengan baik dan merata tidak diprivatisasi untuk segelintir orang dan bukan untuk ajang memperkaya diri tetapi negara mengelola dengan bijak sumber daya alam tersebut yang hasilnya digunakan kembali dalam bentuk fasilitas masyarakat secara gratis.
Demikianlah permasalahan krisis energi listrik dan air jelas tidak bisa tersolusikan ketika menggunakan sistem kapitalisme yang didapatkan hanya keuntungan segelintir orang. Maka sudah selayaknya menggunakan sistem Islam sebagai solusi permasalahan kehidupan di negeri ini. Serta penerapan seluruh sistem Islam tentu membutuhkan peran negara karena menyangkut hajat hidup orang banyak.
