Memuat...

Menteri 'Israel' Peringatkan Turki Bisa Jadi “Iran Berikutnya”

Hanoum
Kamis, 12 Maret 2026 / 23 Ramadan 1447 08:55
Menteri 'Israel' Peringatkan Turki Bisa Jadi “Iran Berikutnya”
Perdana Menteri 'Israel' Naftali Bennett. [the Jerusalem Post]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Seorang pejabat senior 'Israel' memperingatkan bahwa Turki berpotensi dianggap sebagai ancaman strategis baru serupa Iran jika Ankara mendorong pembentukan blok aliansi Islam di kawasan yang dinilai berseberangan dengan kepentingan keamanan Tel Aviv. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran 'Israel' terhadap pergeseran geopolitik di Timur Tengah di tengah perang yang melibatkan Iran dan sekutu Baratnya.

Dilansir Clash Report (11/3/2026), pernyataan tersebut disampaikan oleh mantan Perdana Menteri 'Israel' Naftali Bennett, yang mengatakan bahwa jika Turki—di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan—memimpin koalisi yang ia sebut sebagai “poros Islam radikal”, 'Israel' dapat menilai Ankara sebagai ancaman yang perlu dihadapi sebagaimana saat menghadapi Teheran.

Bennett mengaitkan kekhawatiran itu dengan kemungkinan aliansi antara Turki dan kelompok atau negara yang memiliki basis ideologis Islam seperti Hamas, HTS, dan Qatar, yang menurutnya bisa mengurung 'Israel' secara strategis jika dikembangkan luas. 'Israel' selama ini melihat pengaruh Iran dan sekutunya sebagai ancaman utama di kawasan.

Kekhawatiran serupa muncul dalam analisis media internasional yang menyebut bahwa Turki saat ini memainkan peran geopolitik yang lebih besar di Timur Tengah, termasuk upaya memperkuat hubungan dengan negara-negara Arab dan berperan dalam berbagai forum regional, yang bisa mengubah tatanan politik pasca‑konflik Iran–'Israel'.

Turki sendiri secara terbuka mengutuk serangan ke Iran dan menyerukan penghentian konflik, serta menekankan pentingnya stabilitas regional melalui jalur diplomasi. Presiden Erdoğan baru‑baru ini menyerukan agar perang dengan Iran dihentikan sebelum wilayah lebih luas di Timur Tengah “terseret ke dalam konflik” yang lebih besar.

Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang terus berlanjut antara 'Israel' dan Iran serta sekutunya, di mana serangan udara, rudal balistik, dan operasi militer meningkatkan risiko eskalasi lebih luas yang tidak hanya terbatas di wilayah mereka.

Para pengamat politik menilai peringatan 'Israel' tersebut mencerminkan ketakutan bahwa realokasi kekuatan regional—termasuk potensi pembentukan koalisi negara Muslim—dapat menggeser keseimbangan kekuatan di Timur Tengah di masa mendatang, dan berdampak pada stabilitas serta hubungan bilateral yang sudah tegang. (hanoum/arrahmah.id)