TEHERAN (Arrahmah.id) -- Pemerintah Iran secara tegas membantah telah menembakkan rudal ke wilayah udara Turki meskipun pihak Ankara sebelumnya mengatakan sistem pertahanan udara NATO telah mencegat rudal yang memasuki ruang udara Turki. Teheran menyatakan bahwa tuduhan tersebut tidak berdasar dan menyarankan kemungkinan pihak ketiga, termasuk Israel, berada di balik insiden yang menimbulkan ketegangan antara kedua negara.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters (11/3/2026), bahwa Republik Irantidak pernah meluncurkan rudal ke wilayah Turki, dan menyatakan komitmennya untuk menjaga hubungan baik dengan Ankara di tengah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. Teheran juga menuding bahwa 'Israel' dapat menjadi aktor yang berusaha memicu ketegangan antara Iran dan NATO.
Pernyataan Iran itu muncul setelah Turki mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara NATO dua kali mencegat rudal yang memasuki ruang udaranya. Ankara mengatakan pecahan rudal jatuh di wilayah selatan dekat perbatasan Suriah, namun tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Sebelumnya, pemerintah Turki telah menaikkan kewaspadaan setelah sistem pertahanan udara NATO mencegat rudal lain di wilayah udara Turki. Otoritas Ankara belum mengidentifikasi secara pasti asal rudal pertama, tetapi menyatakan sedang menyelidiki insiden tersebut dengan dukungan sekutu NATO.
Selain itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga mengatakan kemungkinan bahwa 'Israel' berada di balik peluncuran rudal yang memasuki wilayah udara Turki sebagai “provokasi” untuk melemahkan posisi Iran dan menimbulkan perpecahan di antara negara‑negara sekutu NATO. Pernyataan serupa telah muncul sebelumnya dalam konteks konflik yang melibatkan Teheran dan Tel Aviv.
Insiden peluncuran rudal yang belum terkonfirmasi asalnya ini terjadi di tengah eskalasi militer antara Iran, Amerika Serikat, dan sekutu mereka di Timur Tengah. Beberapa analis menilai bahwa insiden di atas wilayah Turki menunjukkan bagaimana konflik regional dapat berdampak jauh melampaui perbatasan negara‑negara yang terlibat secara langsung.
Turki sebagai anggota NATO kini berada dalam posisi sensitif, karena setiap serangan terhadap wilayahnya dapat memicu diskusi tentang pengaktifan Pasal 5 perjanjian pertahanan kolektif aliansi tersebut. Namun pejabat Turki hingga kini mengatakan tidak ada keputusan resmi mengenai hal itu meskipun kewaspadaan tetap tinggi. (hanoum/arrahmah.id)
