RIYADH (Arrahmah.id) -- Serangan rudal balistik Iran ke pangkalan militer Arab Saudi dilaporkan menghantam aset strategis Amerika Serikat, termasuk pesawat mata-mata jenis AWACS, dalam eskalasi terbaru konflik kawasan Timur Tengah.
Dilansir The Wall Street Journal (29/3/2026), serangan terjadi di Prince Sultan Air Base, salah satu pangkalan utama yang digunakan militer Amerika Serikat di Arab Saudi. Laporan media internasional menyebut serangan kombinasi rudal dan drone Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah aset militer, termasuk pesawat pengintai E-3 Sentry (AWACS).
Pesawat AWACS tersebut merupakan sistem peringatan dini udara yang sangat vital, digunakan untuk memantau pergerakan rudal, pesawat, dan ancaman lain secara real-time di wilayah tempur. Kerusakan—bahkan dilaporkan hingga hancur dalam beberapa laporan—dinilai sebagai pukulan besar bagi kemampuan pengawasan udara Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Selain kerusakan pada pesawat, serangan ini juga menyebabkan korban di pihak militer AS. Sedikitnya 10 hingga 12 personel dilaporkan terluka, beberapa di antaranya dalam kondisi serius, akibat hantaman rudal dan drone yang menargetkan fasilitas pangkalan.
Serangan tersebut merupakan bagian dari rangkaian balasan Iran terhadap operasi militer Amerika Serikat dan sekutunya dalam konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan secara konsisten menargetkan pangkalan militer AS dan sekutunya di kawasan Teluk, termasuk di Arab Saudi.
Media seperti BBC dan Indian Express juga melaporkan bahwa serangan ini menandai peningkatan signifikan dalam kemampuan Iran menjangkau target strategis di luar wilayahnya, sekaligus memperluas risiko konflik menjadi perang regional yang melibatkan banyak negara.
Dengan rusaknya aset penting seperti AWACS, analis menilai keseimbangan militer di kawasan dapat terdampak, terutama dalam hal deteksi dini dan koordinasi operasi udara, di tengah konflik yang terus menunjukkan eskalasi cepat dan kompleks. (hanoum/arrahmah.id)
