TEHERAN (Arrahmah.id) -- Nama Mojtaba Khamenei tiba-tiba menjadi sorotan dunia setelah disebut sebagai sosok yang dipilih untuk menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan 'Israel'. Sosok yang selama ini dikenal sebagai figur di balik layar kekuasaan Iran itu kini disebut-sebut sebagai pemimpin baru negara tersebut, memicu perhatian luas dari komunitas internasional, lapor Time (9/3/2026).
Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei yang lahir di Mashhad, Iran, pada 8 September 1969. Ia adalah pemuka agama Syiah yang menempuh pendidikan agama di seminari Qom, pusat pendidikan teologi terbesar di Iran. Selain latar belakang religius, Mojtaba juga pernah bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) pada masa perang Iran–Irak pada akhir 1980-an.
Selama puluhan tahun, Mojtaba dikenal sebagai tokoh berpengaruh di lingkar kekuasaan Iran meski jarang tampil di publik. Ia disebut memiliki peran penting dalam jaringan politik konservatif serta memiliki hubungan kuat dengan Garda Revolusi Iran dan milisi Basij. Pengaruhnya di belakang layar membuatnya kerap disebut sebagai salah satu kandidat utama penerus ayahnya jauh sebelum krisis terbaru terjadi.
Menurut Reuters (9/3), setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan udara pada akhir Februari 2026, Majelis Ahli Iran akhirnya menunjuk Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut. Keputusan itu mendapat dukungan kuat dari struktur politik dan militer Iran, termasuk Garda Revolusi, yang segera menyatakan loyalitas kepada pemimpin baru tersebut.
Penunjukan Mojtaba juga menuai kontroversi karena dianggap sebagai bentuk suksesi “dinasti” pertama sejak Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki Iran. Beberapa analis menilai langkah itu menunjukkan konsolidasi kekuatan kelompok garis keras di Iran di tengah konflik yang semakin memanas dengan Amerika Serikat dan 'Israel'.
Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba kini memegang kendali atas angkatan bersenjata, kebijakan luar negeri, serta berbagai lembaga strategis negara. Pengamat menilai kepemimpinannya kemungkinan akan mempertahankan garis keras terhadap Barat dan memperkuat posisi Iran di tengah konflik regional yang semakin meningkat.
Perkembangan ini menandai babak baru dalam politik Iran sekaligus memperbesar ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah rangkaian serangan militer dan eskalasi konflik yang melibatkan Teheran, Washington, dan Tel Aviv dalam beberapa waktu terakhir. (hanoum/arrahmah.id)
