TEHERAN (Arrahmah.id) - Pemerintah Iran secara resmi mengeluarkan peringatan keras bahwa 'Israel' kemungkinan besar akan melancarkan serangan terselubung atau operasi bendera palsu (false flag) di negara-negara pihak ketiga. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa taktik ini bertujuan untuk memfitnah Teheran dan menyeret pemerintah negara-negara Arab masuk langsung ke dalam konflik regional yang kian meluas.
Tuduhan ini mencuat menyusul serangkaian insiden keamanan di Arab Saudi dan Siprus pada pekan pertama perang. Teheran bersikeras bahwa kampanye militer mereka hanya menargetkan aset militer AS dan 'Israel', bukan kedaulatan negara tetangga. "Rezim Zionis tidak diragukan lagi akan berusaha memperluas cakupan api dan melakukan sabotase di negara-negara regional untuk mengubah perang ini menjadi konflik regional yang luas," tegas Baghaei dalam konferensi pers di Teheran.
Kekhawatiran akan adanya provokasi terselubung ini diperkuat oleh dua kejadian penting dalam beberapa hari terakhir. Pada 6 Maret, Riyadh memperingatkan Iran agar tidak menyerang infrastruktur energinya menyusul aktivitas drone misterius di Teluk. Iran merespons dengan menyatakan bahwa serangan mereka hanya tertuju pada basis militer yang "disalahgunakan" oleh AS untuk menyerang Iran.
Sebuah drone menghantam pangkalan militer Inggris RAF Akrotiri di Siprus pada 4 Maret. Meski Iran tidak mengaku bertanggung jawab, para pejabat di Teheran menunjuk insiden ini sebagai contoh peristiwa yang dapat dimanipulasi untuk memperlebar medan perang.
Isu ini semakin memanas setelah penyiar terkemuka AS, Tucker Carlson, mengklaim bahwa otoritas di Qatar dan Arab Saudi telah menangkap agen-agen Mossad yang berencana melakukan pengeboman di negara-negara tersebut. "Israel ingin menyakiti Iran, Qatar, UEA, Arab Saudi, dan negara Teluk lainnya," ujar Carlson dalam komentarnya yang viral di media sosial. Meski belum dikonfirmasi secara resmi oleh Riyadh atau Doha, klaim ini memperkuat narasi Iran bahwa 'Israel' diuntungkan jika negara Arab terlibat konflik.
Analis di Teheran berpendapat bahwa 'Israel' secara strategis diuntungkan jika perang meluas. Jika negara-negara Arab terseret masuk, Iran akan terpaksa membagi konsentrasi kekuatan rudal dan drone mereka ke banyak front. Hal ini dinilai akan mengurangi tekanan langsung yang saat ini dihadapi oleh pertahanan 'Israel' dan mempersulit upaya diplomasi internasional untuk mengakhiri perang. (zarahamala/arrahmah.id)
