Memuat...

Trump–Netanyahu Klaim Perang Segera Berakhir, Fakta di Lapangan Justru Berbeda

Samir Musa
Selasa, 24 Maret 2026 / 5 Syawal 1447 09:09
Trump–Netanyahu Klaim Perang Segera Berakhir, Fakta di Lapangan Justru Berbeda
Trump dan Netanyahu memberi kabar gembira tentang mendekatnya akhir perang, namun realitas di lapangan tidak menunjukkan hal tersebut (Getty)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Pernyataan optimistis dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu tentang “akhir permainan” dalam perang melawan Iran mulai diragukan. Sejumlah analisis menunjukkan bahwa Teheran justru tengah mempersiapkan diri menghadapi konflik jangka panjang yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Laporan analisis yang dimuat oleh The Independent menyebut bahwa narasi kemenangan cepat yang digaungkan Washington dan Tel Aviv tidak mencerminkan realitas medan perang yang kompleks. Meskipun Amerika Serikat dan “Israel” telah melancarkan serangan intensif yang merusak sebagian infrastruktur militer Iran, kemampuan Teheran untuk membalas masih tetap terjaga.

Iran dilaporkan masih memiliki cadangan rudal dalam jumlah besar, serta kemampuan memproduksi drone berbiaya rendah secara berkelanjutan, tulis analis Alex Croft dalam laporannya.

Para pakar menilai bahwa Iran memandang konflik ini sebagai “maraton” panjang, bukan pertempuran singkat. Strategi yang diandalkan pun tidak konvensional, termasuk menekan ekonomi global melalui jalur vital seperti Selat Hormuz serta memperluas konflik ke kawasan regional.

Selain itu, struktur komando Iran yang bersifat desentralisasi memungkinkan operasi militer tetap berjalan meskipun pimpinan tingkat atas menjadi target serangan.

Di lapangan, Iran juga menunjukkan kemampuan respons cepat dan eskalasi, menandakan bahwa sistem komando dan kendali mereka masih berfungsi. Saat ini, Teheran menghadapi dua front sekaligus: serangan langsung dari Amerika Serikat yang berupaya melumpuhkan kemampuan militernya, serta operasi “Israel” yang menargetkan stabilitas internal melalui serangkaian pembunuhan terarah.

Kesenjangan antara klaim dan realitas

Meski Washington mungkin mengklaim telah mencapai sebagian tujuan militernya, para analis menilai konsep “kemenangan” dalam konflik ini masih kabur. Kemungkinan terbesar hanyalah melemahkan Iran tanpa benar-benar mengakhiri pengaruh regionalnya, yang berarti perang berpotensi terus berlanjut.

Di dalam negeri Amerika, kekhawatiran mulai muncul di kalangan pendukung Trump terkait keterlibatan yang berkepanjangan. Beberapa pihak bahkan menyoroti peran “Israel” dalam mendorong eskalasi konflik.

Dalam analisis yang dimuat The Times, disebutkan bahwa hubungan erat antara Washington dan Tel Aviv menjadi salah satu faktor utama di balik keterlibatan Amerika dalam perang ini.

Trump sendiri memuji komitmen “Israel” dalam konflik, sementara sebagian sekutunya menolak ikut serta. Namun, tidak sedikit dari basis pendukungnya—termasuk dalam gerakan MAGA—yang menilai bahwa “Israel” justru menyeret Amerika ke dalam konflik yang lebih luas.

Perpecahan pun mulai terlihat di dalam negeri AS, baik di kalangan Partai Republik maupun Demokrat, terkait arah kebijakan luar negeri Washington.

Laporan tersebut juga menyinggung pengunduran diri pejabat intelijen kontra-terorisme Joe Kent, yang mengklaim bahwa presiden AS sedang “ditarik” ke dalam agenda “Israel”. Pernyataan ini memperkuat indikasi adanya faksi dalam pemerintahan yang ingin meninjau ulang intervensi luar negeri Amerika.

“Israel” punya agenda, Iran punya strategi

Secara militer, serangan yang dilancarkan memang berhasil merusak sebagian kemampuan Iran. Namun ambisi untuk meraih “kemenangan total” masih jauh dari tercapai. Iran terus melancarkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone, bahkan dengan kemampuan produksi ulang yang relatif murah.

Sementara itu, hubungan antara Trump dan Netanyahu menunjukkan dinamika tersendiri. Trump cenderung mengambil kendali langsung atas keputusan strategis, memaksa Netanyahu untuk menyesuaikan diri dengan gaya kepemimpinan tersebut.

Namun demikian, “Israel” tetap memiliki agenda strategisnya sendiri, sebagaimana Iran juga menjalankan kepentingan dan kalkulasi militernya. Hal ini membuat upaya Amerika untuk menarik diri dari konflik menjadi semakin rumit.

Analisis tersebut menyimpulkan bahwa meskipun Trump masih memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah perang, ia bukan satu-satunya aktor penentu. Kompleksitas kepentingan antara “Israel” dan Iran menjadikan kemungkinan “akhir bersih” dari konflik ini sangat sulit dicapai.

Dengan kata lain, wacana “de-eskalasi” dan jadwal penghentian perang yang dibicarakan Washington masih jauh dari jaminan realisasi, di tengah konflik yang semakin terjalin rumit secara militer, politik, dan ekonomi.

(Samirmusa/arrahmah.id)