WASHINGTON (Arrahmah.id) - Laporan terbaru dari The Wall Street Journal pada Sabtu (14/3/2026) mengonfirmasi bahwa sebanyak 13 tentara Amerika Serikat tewas dan 210 lainnya luka-luka sejak dimulainya operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Dari ratusan tentara yang terluka, sekitar 170 orang dilaporkan telah kembali bertugas, sementara 10 orang masih dalam kondisi kritis.
Insiden terbaru yang menambah daftar korban jiwa adalah jatuhnya pesawat pengisi bahan bakar militer AS di Irak pada Kamis (12/3), yang menewaskan 6 kru di dalamnya. Meskipun kelompok perlawanan di Irak mengeklaim telah menembak jatuh pesawat tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa kecelakaan itu bukan disebabkan oleh serangan musuh maupun friendly fire.
Kronologi Gugurnya Tentara Amerika Serikat
Pada 1 Maret, serangan drone Iran menghantam pusat operasi militer di dekat Pangkalan Arifjan, menewaskan 6 tentara AS. Presiden Donald Trump secara pribadi menghadiri upacara kepulangan jenazah para prajurit ini di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, pada 7 Maret.
Sebuah pesawat tanker jatuh di wilayah Irak Barat saat menjalankan misi pendukung, mengakibatkan 6 kru tewas, pada 12 Maret.
CENTCOM mengonfirmasi 1 tentara AS tewas akibat serangan rudal/drone Iran yang menyasar posisi pasukan Amerika di wilayah Arab Saudi.
Sejak agresi gabungan AS-'Israel' dimulai, Iran terus meluncurkan balasan ke berbagai negara (Kuwait, UEA, Arab Saudi, Irak, dan Yordania) dengan alasan menargetkan pangkalan AS, meskipun serangan tersebut sering kali berdampak pada fasilitas sipil.
Perang yang dipicu oleh serangan besar-besaran AS-Israel sejak akhir Februari ini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan puluhan petinggi militer lainnya. Namun, serangan balasan Iran ke wilayah 'Israel' juga telah memakan korban setidaknya 14 orang tewas dan lebih dari 2.700 lainnya luka-luka, menciptakan krisis keamanan regional yang paling parah dalam beberapa dekade terakhir. (zarahamala/arrahmah.id)
