TEHERAN (Arrahmah.id) - Eskalasi militer mencapai titik puncaknya pada Sabtu dini hari (14/3/2026) ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan peluncuran salah satu serangan udara terkuat dalam sejarah Timur Tengah. Sasaran utama serangan ini adalah Pulau Kharg, wilayah strategis yang dijuluki "Permata Mahkota" Iran karena menangani sekitar 90% ekspor minyak negara tersebut.
Trump mengeklaim seluruh target militer di pulau itu telah hancur total, namun ia sengaja tidak menghancurkan infrastruktur minyak, dengan catatan, selama navigasi di Selat Hormuz tidak diganggu.
AS menargetkan pusat pertahanan di pulau yang terletak 30 km dari daratan utama Iran ini. Meski infrastruktur minyak belum disentuh, Trump memberikan peringatan keras bahwa ia akan meninjau kembali keputusan tersebut jika Iran mencoba menutup Selat Hormuz.
Iran segera merespons dengan meluncurkan serangan balistik terberat yang mengakibatkan kebakaran besar di berbagai kota di 'Israel', termasuk Tel Aviv dan Lod. Garda Revolusi Iran (IRGC) melaporkan penggunaan 30 rudal balistik dengan hulu ledak raksasa seberat 1 hingga 2 ton dalam operasi balasan tersebut.
Serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan bangunan dan kebakaran di kota Holon, Rishon LeZion, dan Shoham (dekat Bandara Ben Gurion). Sebuah pabrik di 'Israel' tengah dilaporkan hangus dilalap api akibat hantaman serpihan rudal.
IRGC mengeklaim telah menyerang pusat komando dan pangkalan Al Dhafra di Uni Emirat Arab menggunakan rudal jelajah dan balistik sebagai balasan atas keterlibatan AS.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan seorang anak perempuan tewas di Provinsi Khuzestan akibat serangan udara yang mereka sebut sebagai agresi Amerika-Zionis.
Sirine bahaya meraung tanpa henti di wilayah Negeb dan Laut Mati. Pihak kepolisian 'Israel' saat ini masih melakukan penyisiran di lokasi-lokasi jatuhnya serpihan rudal untuk mencari kemungkinan korban lainnya.
Penyerangan terhadap Pulau Kharg adalah langkah yang sangat berisiko karena posisinya sebagai jalur utama energi. Para ahli memperingatkan bahwa langkah AS ini dapat memicu reaksi balik yang lebih keras di Selat Hormuz, yang berpotensi melumpuhkan pasokan minyak global secara permanen selama konflik berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)
