KABUL (Arrahmah.id) -- Pakistan melancarkan serangan udara ke ibu kota Imarah Islam Afghanistan (IIA), Kabul, serta sejumlah provinsi di wilayah perbatasan, memicu eskalasi tajam konflik antara kedua negara bertetangga tersebut. Serangan yang menargetkan beberapa lokasi strategis ini dilaporkan menewaskan warga sipil dan merusak fasilitas penting, sementara pemerintah IIA menuduh Islamabad melanggar kedaulatan negaranya.
Menurut Reuters (13/3/2026), jet tempur Pakistan melakukan serangan terhadap sejumlah target di Kabul, Kandahar, dan wilayah perbatasan seperti Paktia dan Nangarhar. Otoritas IIA menyebut sedikitnya beberapa warga sipil tewas dan lebih dari selusin lainnya terluka setelah bom menghantam kawasan permukiman di Kabul.
Militer Pakistan menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan kamp militan, terutama kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan jaringan ekstremis lain yang dituduh Islamabad beroperasi dari wilayah Afghanistan. Islamabad menegaskan serangan itu merupakan operasi berbasis intelijen yang menargetkan lokasi persembunyian militan yang bertanggung jawab atas serangkaian serangan teror di Pakistan.
Namun pemerintah IIA di Afghanistan menolak tuduhan tersebut dan menyatakan serangan Pakistan justru mengenai infrastruktur sipil, termasuk depot bahan bakar di dekat bandara Kandahar serta rumah warga. Kabul menilai operasi militer itu sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Afghanistan dan memperingatkan akan memberikan respons.
Ketegangan kemudian meningkat ketika IIA meluncurkan serangan balasan menggunakan drone terhadap fasilitas militer Pakistan, termasuk target di wilayah Kohat dan sekitar Islamabad. Kedua pihak saling menuduh telah menyebabkan korban jiwa dan kerusakan besar dalam rangkaian serangan lintas perbatasan tersebut.
Konflik terbaru ini merupakan bagian dari eskalasi yang telah berlangsung sejak awal 2026, ketika Pakistan melancarkan operasi udara terhadap sejumlah kamp militan di provinsi Nangarhar dan Paktika. Pakistan menyatakan serangan itu sebagai balasan atas gelombang serangan teror yang menewaskan puluhan orang di wilayahnya.
Para analis keamanan menilai situasi tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik terbuka antara kedua negara jika serangan lintas batas terus berlanjut. Upaya diplomasi untuk meredakan ketegangan, termasuk mediasi dari beberapa negara kawasan, sejauh ini belum berhasil menghentikan eskalasi militer di sepanjang perbatasan Afghanistan–Pakistan. (hanoum/arrahmah.id)
