TEL AVIV (Arrahmah.id) - Kepala Staf IDF, Eyal Zamir, memberikan peringatan keras kepada kabinet keamanan bahwa militer 'Israel' bisa runtuh jika tidak segera mendapatkan tambahan tenaga manusia. Setelah lebih dari dua tahun pertempuran terus-menerus sejak Oktober 2023, IDF kini terjebak dalam dilema antara target politik yang melambung tinggi dengan sumber daya manusia yang semakin menipis.
Data yang dihimpun menunjukkan lubang besar dalam struktur militer. The Telegraph melaporkan kekurangan akut sekitar 12.000 tentara, dengan 7.000 di antaranya adalah personel peran tempur. Banyak prajurit cadangan kini menjalani tugas putaran ketujuh mereka. Beberapa di antaranya telah menghabiskan lebih dari 365 hari di medan perang dalam dua tahun terakhir.
Angka gangguan stres pascatrauma (PTSD) dan kasus bunuh diri di kalangan prajurit juga dilaporkan meningkat tajam.
Terlebih lagi, ada kemarahan besar di internal militer terhadap kelompok Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) yang tetap bebas dari wajib militer, sementara beban perang ditanggung sepenuhnya oleh kelompok sekuler dan cadangan.
Tepi Barat kini menjadi front yang paling menguras energi IDF, melampaui beban perang di Lebanon atau Iran. Ekspansi lebih dari 150 pemukiman baru dalam dua tahun terakhir memaksa militer menyebar pasukannya untuk melindungi titik-titik terisolasi.
Lonjakan kekerasan oleh pemukim radikal terhadap warga Palestina, termasuk serangan pembakaran dan pencurian ternak, memerlukan pengawasan ekstra yang melelahkan. Akibat ketegangan di Tepi Barat, IDF terpaksa mengalihkan satu batalyon infanteri yang seharusnya dikirim ke front Lebanon untuk berjaga di Tepi Barat.
Pengamat militer Michael Milstein menyatakan bahwa untuk menjalankan semua target perang Netanyahu (di Gaza, Lebanon, Suriah, dan Iran), IDF membutuhkan setidaknya 25.000 hingga 30.000 prajurit baru secara instan, hal yang mustahil dilakukan tanpa perubahan hukum wajib militer yang radikal.
Masalah utama 'Israel' saat ini bukan lagi soal strategi di medan tempur, melainkan ketahanan internal. IDF sedang mengalami kelelahan struktural. Jika invasi darat di Lebanon Selatan berlangsung bertahun-tahun dan perang melawan Iran terus berlanjut, IDF akan menghadapi krisis eksistensial di mana mereka memiliki senjata canggih namun kekurangan manusia untuk mengoperasikannya. (zarahamala/arrahmah.id)
