GAZA (Arrahmah.id) - Setidaknya enam warga Palestina, termasuk petugas polisi dan warga sipil, gugur dalam dua serangan drone 'Israel' di area Al-Mawasi, sebelah barat Khan Yunis, pada Ahad dini hari (29/3/2026). Serangan yang menyasar pos pemeriksaan polisi tersebut memicu kepanikan luar biasa di kalangan penduduk yang sedang beristirahat.
Saksi mata menggambarkan suasana mencekam saat ledakan keras mengguncang pemukiman sebelum fajar. Fatima Abu Salem, seorang warga lokal, menyatakan kepada The New Arab bahwa anak-anak terlalu ketakutan untuk tidur setelah ledakan tersebut. "Pembunuhan para pemuda ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga mereka, tapi bagi seluruh komunitas. Mereka berjaga untuk keamanan di sini," ujarnya.
Serangan ini melanjutkan pola serangan 'Israel' terhadap institusi kepolisian dan keamanan Palestina di Gaza, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian permusuhan.
Direktur Rumah Sakit Syifa, Mohammed Abu Selmeia, memperingatkan bahwa fasilitas medis telah mencapai titik nadir. Kurangnya pasokan makanan dan medis akibat pembatasan bantuan membuat rumah sakit kesulitan menangani gelombang korban luka yang terus berdatangan.
Juru bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, mengungkapkan data mengejutkan bahwa sejak gencatan senjata dideklarasikan pada Oktober 2025, operasi militer 'Israel' telah menewaskan sedikitnya 692 warga Palestina.
Selain di Gaza, kekerasan pemukim 'Israel' di Tepi Barat dilaporkan terus meningkat di bawah perlindungan tentara, yang menurut otoritas Palestina dapat membuat segala upaya perdamaian di kawasan menjadi sia-sia.
Ketua Dewan Nasional Palestina, Rawhi Fattouh, menyebut serangan udara ini sebagai kejahatan perang yang secara sengaja menargetkan warga sipil dan menghancurkan properti mereka di tengah perjanjian penghentian permusuhan.
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang ada. Dengan jumlah korban yang terus bertambah mencapai hampir 700 jiwa sejak "damai" dideklarasikan, tekanan terhadap komunitas internasional dan Amerika Serikat untuk bertindak nyata semakin menguat.
Tanpa adanya koridor bantuan kemanusiaan yang stabil, Gaza tidak hanya terancam oleh ledakan bom, tetapi juga oleh kelaparan dan kolapsnya sistem kesehatan secara total. (zarahamala/arrahmah.id)
