TEHERAN (Arrahmah.id) - Juru bicara markas militer Khatam al-Anbiya Iran, Ibrahim Zulfaqari, menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama eskalasi militer berlangsung. Dalam pernyataan resminya pada Kamis (12/3/2026) malam, ia menekankan bahwa operasi militer Iran akan terus berlanjut dengan kekuatan penuh terhadap target-target Amerika Serikat dan 'Israel' sebagai respons atas agresi yang menewaskan pimpinan tertinggi mereka.
Zulfaqari juga mengeluarkan peringatan keras yang mengancam stabilitas energi dunia. Ia menyatakan bahwa Iran tidak akan ragu untuk menghancurkan sektor energi di kawasan jika infrastruktur energi atau pelabuhan milik Iran diserang. "Kami akan membakar minyak dan gas di kawasan ini jika infrastruktur energi kami menjadi sasaran," tegasnya.
Iran baru saja menyelesaikan Gelombang ke-42 dari operasi Janji Setia 4. Serangan ini melibatkan kombinasi drone dan rudal canggih jenis Fattah, Kheibar Shekan, Qader, dan Emad.
Markas Armada Kelima AS menjadi target utama serangan laut Iran. Selain itu, pangkalan militer AS di berbagai wilayah serta titik-titik di Tel Aviv juga dilaporkan terkena serangan rudal.
Komandan Angkatan Dirgantara Garda Revolusi (IRGC) mengumumkan bahwa ladang gas Leviathan dan Karish milik 'Israel' kini telah masuk dalam daftar target utama serangan berikutnya.
Penasihat Panglima IRGC mengeklaim bahwa Teheran masih memiliki generasi rudal mutakhir yang belum digunakan sama sekali dan siap untuk menjalankan perang jangka panjang.
Kapal-kapal komersial diimbau untuk mematuhi hukum laut Iran dalam kondisi perang guna menghindari risiko salah sasaran di tengah situasi yang kian tak terkendali.
Penutupan Selat Hormuz sejak 2 Maret telah memicu kekacauan ekonomi global, mulai dari lonjakan biaya asuransi hingga meroketnya harga minyak mentah. Dunia kini menanti langkah AS dan Israel dalam menanggapi ancaman sabotase energi total yang dilontarkan oleh Teheran. (zarahamala/arrahmah.id)
