Memuat...

IRGC Umumkan Penutupan Selat Hormuz, AS Bantah dan Sebut Jalur Tetap Buka

Zarah Amala
Selasa, 3 Maret 2026 / 14 Ramadan 1447 09:10
IRGC Umumkan Penutupan Selat Hormuz, AS Bantah dan Sebut Jalur Tetap Buka
Salah satu kapal milik Garda Revolusi Iran berpatroli di perairan Selat Hormuz (Associated Press - Arsip)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik puncak pada Senin malam (2/3/2026). Brigadir Jenderal Ibrahim Jabbari, penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menyatakan bahwa jalur air paling strategis di dunia tersebut telah ditutup sepenuhnya. Iran mengancam akan menembak kapal apa pun yang mencoba melintas.

Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh militer Amerika Serikat. Melalui laporan Fox News, seorang pejabat senior militer AS menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak tertutup bagi navigasi internasional dan tidak terlihat adanya patroli Angkatan Laut Iran yang memaksakan blokade.

Dalam pernyataannya di televisi nasional Iran, Jenderal Jabbari menekankan bahwa Teheran tidak akan membiarkan ekspor minyak dari kawasan tersebut berlanjut selama musuh masih menekan Iran.

"Kami akan menargetkan jalur minyak milik musuh. Mereka (Amerika) haus akan minyak kawasan, namun mereka tidak akan mendapatkan satu tetes pun," tegas Jabbari.

IRGC melaporkan bahwa kapal tanker bahan bakar Athi Nova berbendera Honduras terbakar di Selat Hormuz setelah dihantam dua drone Iran. Kapal tersebut dituding beroperasi di bawah koordinasi Amerika Serikat.

Meskipun AS membantah adanya penutupan resmi, data lapangan menunjukkan gangguan besar pada arus logistik. The Wall Street Journal melaporkan bahwa pergerakan kapal di selat tersebut telah terhenti sebagian besar karena kekhawatiran faktor keamanan.

Data navigasi yang dikutip Reuters menunjukkan setidaknya 150 kapal tanker bermuatan minyak dan gas saat ini terhenti di perairan Teluk, tertahan tepat di luar pintu masuk Selat Hormuz.

Pernyataan keras IRGC ini tampak kontras dengan komentar Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya yang menyebut tidak ada niat untuk mengganggu navigasi pada tahap ini.

Blokade di titik ini memiliki dampak katastropik bagi ekonomi global karena jalur ini dilewati oleh seperempat produksi minyak dunia dan seperlima produksi gas alam cair (LNG). Selat Hormuz juga merupakan pintu keluar satu-satunya bagi produsen besar seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab menuju laut lepas. (zarahamala/arrahmah.id)