Memuat...

Novel Baswedan: Penyerangan Air Keras terhadap Andrie Yunus Kejahatan Terorganisir

Ameera
Sabtu, 14 Maret 2026 / 25 Ramadan 1447 16:19
Novel Baswedan: Penyerangan Air Keras terhadap Andrie Yunus Kejahatan Terorganisir
Novel Baswedan: Penyerangan Air Keras terhadap Andrie Yunus Kejahatan Terorganisir

JAKARTA (Arrahmah.id) — Mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, mengecam keras aksi penyiraman air keras yang menimpa aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.

Ia menilai serangan tersebut bukan sekadar penganiayaan, melainkan tindakan serius yang diduga bertujuan menghilangkan nyawa korban.

Novel mengatakan cara pelaku melancarkan serangan menunjukkan adanya niat jahat yang sangat serius.

Menurutnya, penyiraman air keras di area wajah memiliki risiko besar menyebabkan korban meninggal dunia.

“Dia diserang, serangannya itu saya yakin maksudnya membunuh. Kalau area muka itu kena air keras kemungkinan besar gagal napas dan bisa meninggal orang. Paling tidak pelaku ini menghendaki cacat permanen,” kata Novel saat jumpa pers di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Sabtu (14/3/2026).

Ia menilai aksi tersebut sebagai kejahatan yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Novel juga menyebut Andrie sebagai sosok yang selama ini dikenal peduli terhadap negara dan aktif menyuarakan kritik terhadap ketidakadilan yang dialami masyarakat sipil.

“Begitu jahatnya pelaku ini. Saya ingin menggambarkan bahwa ini kejahatan yang sangat serius dan biadab. Yang diserang adalah orang baik. Dia kritis, dia peduli, dia mencintai negaranya,” ujar Novel.

Lebih jauh, Novel mengaku telah melihat rekaman kamera pengawas (CCTV) yang merekam peristiwa penyerangan tersebut. Dari pengamatannya, ia meyakini aksi tersebut dilakukan secara terorganisir.

“Saya lihat CCTV-nya. Dari CCTV yang saya perhatikan, saya yakin pelakunya terorganisir,” kata dia.

Menurut Novel, pola pergerakan para pelaku di lapangan menunjukkan adanya perencanaan sebelum serangan dilakukan.

Ia menyebut penyerangan tidak dilakukan oleh satu pelaku saja, melainkan melibatkan beberapa orang dengan koordinasi tertentu.

“Pelakunya bukan satu motor yang berdua saja. Terorganisir. Ada simbol-simbol yang dilakukan di lapangan sehingga ketika menyerang itu begitu terorganisir. Ini sesuatu yang direncanakan untuk menyerang,” ungkapnya.

Karena itu, Novel mendesak aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), untuk mengusut kasus tersebut secara menyeluruh dan tidak berhenti pada pelaku lapangan saja.

“Pengusutan ini harus dilakukan dengan menyeluruh. Semua orang yang terlibat harus diusut. Aktor intelektualnya harus disentuh, harus dijangkau dan diberikan pertanggungjawaban yang berat,” tegasnya.

Selain itu, Novel juga meminta perhatian langsung dari pemerintah, termasuk Presiden, agar proses penegakan hukum berjalan serius dan transparan.

“Oleh karena itu, saya juga mendesak kepada Pak Presiden agar memberikan perhatian kepada perkara ini dan memberikan dukungan kepada Polri untuk bisa mengusut dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar kasus ini tidak berakhir seperti sejumlah kasus serupa di masa lalu yang dinilai hanya menjerat pelaku lapangan tanpa menyentuh pihak yang diduga menjadi dalang.

“Kita tidak mau kemudian terjadi seperti kasus-kasus sebelumnya, di mana hanya pelaku lapangan saja yang dihukum. Saya yakin pelakunya banyak,” kata Novel.

Menurutnya, proses hukum harus diawasi bersama oleh publik agar berjalan transparan dan mampu memberikan hukuman setimpal kepada para pelaku.

“Oleh karena itu, pengusutannya harus kita dorong, kita awasi sama-sama, dan kita desak agar diusut dengan sungguh-sungguh dan menyeluruh. Prosesnya harus transparan serta diberikan hukuman yang seberat-beratnya,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)