NABLUS (Arrahmah.id) - Ketegangan di wilayah Tepi Barat kembali memuncak pada Senin dini hari (23/3/2026) setelah sekelompok pemukim 'Israel' menyerbu SMA Laki-laki Huwara di selatan Nablus. Para penyerang melakukan aksi provokatif dengan menurunkan bendera Palestina dari tiang sekolah dan menggantinya dengan bendera 'Israel', serta mencoretkan slogan-slogan rasis di dinding bangunan sekolah.
Saksi mata melaporkan bahwa tulisan dalam bahasa Ibrani yang bermakna "Mampus Arab" ditemukan di tembok sekolah tersebut. Kementerian Pendidikan Palestina mengutuk keras insiden ini, menyebutnya sebagai pelanggaran mencolok terhadap kesucian lembaga pendidikan dan ancaman serius bagi keamanan proses belajar-mengajar.
Pemukim 'Israel' merangsek masuk ke area sekolah yang terletak di jalan utama kota Huwara saat dini hari. Selain mengganti bendera, mereka merusak estetika sekolah dengan coretan kebencian. Kementerian Pendidikan Palestina menegaskan bahwa serangan ini adalah bagian dari rangkaian panjang pelanggaran sistematis terhadap siswa dan tenaga pengajar di wilayah pendudukan.
Misi diplomatik Barat di Yerusalem dan Ramallah sebelumnya telah menyatakan ngeri atas meningkatnya teror pemukim Israel. Mereka menekankan bahwa 'Israel', sebagai kekuatan pendudukan, memiliki tanggung jawab hukum untuk melindungi warga sipil Palestina.
Saat ini, sekitar 750.000 pemukim 'Israel' tinggal di pemukiman ilegal di Tepi Barat, termasuk 250.000 di Yerusalem Timur. Kehadiran mereka sering kali memicu gesekan fisik dengan penduduk lokal. Sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023, lebih dari 1.100 warga Palestina di Tepi Barat telah gugur akibat serangan tentara maupun pemukim 'Israel', dengan ribuan lainnya luka-luka dan ditahan.
Serangan terhadap sekolah di Huwara bukan yang pertama kalinya. Kota ini sering menjadi titik api kerusuhan karena lokasinya yang strategis bagi warga Palestina sekaligus jalur utama bagi para pemukim. Otoritas Palestina mendesak perlindungan internasional bagi institusi pendidikan guna menjamin hak dasar anak-anak untuk belajar tanpa rasa takut di tengah situasi perang yang masih berkecamuk. (zarahamala/arrahmah.id)
