TEHERAN (Arrahmah.id) - Operasi intelijen dan serangan udara gabungan AS-'Israel' terus menyasar pilar-pilar utama Republik Islam Iran. Pada Rabu dini hari (18/3/2026), Dewan Keamanan Nasional Agung Iran mengonfirmasi tewasnya Sekretaris Jenderal mereka, Ali Larijani. Di saat yang sama, Garda Revolusi (IRGC) juga mengumumkan kematian Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani, komandan pasukan paramiliter Basij.
Kehilangan Larijani dan Soleimani merupakan pukulan telak ketiga setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama perang (28 Februari). Para analis melihat ini sebagai strategi sistematis Washington dan Tel Aviv untuk melumpuhkan hirarki pengambilan keputusan Iran guna memicu keruntuhan rezim dari dalam.
Ali Larijani bukan sekadar birokrat; ia adalah tokoh kunci dengan legitimasi politik, militer, dan keamanan yang sangat kuat. Pengamat menyebut sulit mencari pengganti yang sepadan dengan Larijani, terutama jika kedua pihak ingin menempuh jalur negosiasi di masa depan.
Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Larijani memiliki wewenang yang secara praktis lebih tinggi dari Presiden dalam menentukan kebijakan pertahanan, keamanan, dan ekonomi nasional. Kematiannya memutus rantai koordinasi yang telah terbangun selama bertahun-tahun.
Pasukan Basij, yang dipimpin oleh Gholamreza Soleimani, adalah tulang punggung keamanan di jalan-jalan kota Iran dengan jumlah personel mencapai 2 juta orang. Meski secara eksekusi di lapangan tetap berjalan, hilangnya sang komandan merupakan serangan langsung terhadap kendali keamanan dalam negeri.
Dalam sistem Iran, komandan Basij melapor kepada panglima IRGC, yang kemudian melapor langsung kepada Pemimpin Tertinggi. Dengan tewasnya tokoh-tokoh di puncak piramida ini, harmoni dalam pembuatan keputusan strategis diperkirakan akan mengalami kemunduran besar.
AS dan 'Israel' sengaja menyasar tokoh-tokoh yang telah bekerja sama selama puluhan tahun untuk menciptakan kekosongan kepemimpinan (leadership vacuum) di tengah situasi perang yang semakin intens.
Meskipun Iran segera menunjuk penerus secara administratif, hilangnya tokoh veteran seperti Larijani di tengah perang melawan Amerika Serikat dan 'Israel' menciptakan ketidakpastian tinggi. Tanpa adanya sosok "pemadam kebakaran" politik seperti Larijani, kebijakan luar negeri Iran diprediksi akan menjadi lebih kaku atau sepenuhnya dikendalikan oleh faksi militer garis keras di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei. (zarahamala/arrahmah.id)
