KABUL (Arrahmah.id) -- Sejumlah pemuda Afghanistan dilaporkan membentuk kelompok baru yang menentang pemerintahan Taliban atau Imarah Islam Afghanistan (IIA), menandai munculnya kembali gerakan oposisi di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan di negara tersebut. Pembentukan kelompok ini disebut sebagai respons atas kebijakan IIA yang dinilai semakin represif menurut mereka.
Dilansir Kyber News (17/3/2026), kelompok baru bernama National Mobilisation Front (NMF) ini digerakkan oleh kalangan muda Afghanistan, dengan tujuan menantang dominasi IIA serta memperjuangkan perubahan politik di dalam negeri. Meski detail struktur organisasi masih terbatas, kemunculan kelompok ini disebut mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan generasi muda terhadap kondisi sosial dan ekonomi di bawah pemerintahan IIA.
Kyber News menambahkan bahwa reaksi keras muncul di Afghanistan setelah adanya perkembangan geopolitik terkait IIA, termasuk isu pencabutan status teroris oleh sejumlah negara. Situasi ini disebut memicu dinamika baru, termasuk munculnya inisiatif perlawanan dari kelompok-kelompok masyarakat sipil maupun elemen muda.
Fenomena ini bukan yang pertama. Sejak IIA kembali berkuasa pada 2021, sejumlah kelompok perlawanan telah muncul, seperti Afghanistan Freedom Front yang aktif melakukan perlawanan bersenjata terhadap Taliban di berbagai wilayah. Kelompok tersebut menjadi salah satu simbol oposisi terhadap pemerintahan yang kini menguasai Kabul.
Selain itu, gerakan sipil dan aktivisme juga berkembang di kalangan masyarakat Afghanistan, termasuk kelompok perempuan dan pemuda yang menentang pembatasan hak-hak dasar. Laporan internasional menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap kebebasan sipil, termasuk pembatasan pendidikan dan pekerjaan bagi perempuan, yang memicu ketidakpuasan luas di masyarakat.
Para analis menilai kemunculan kelompok baru yang digerakkan pemuda ini menunjukkan bahwa stabilitas pemerintahan IIA masih menghadapi tantangan internal yang signifikan. Fragmentasi politik, tekanan ekonomi, serta resistensi sosial disebut dapat memperkuat potensi munculnya gelombang oposisi baru di Afghanistan.
Di tengah kondisi tersebut, masa depan keamanan Afghanistan dinilai semakin tidak pasti, terutama jika kelompok-kelompok baru ini berkembang menjadi gerakan yang lebih terorganisir dan mendapatkan dukungan yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun dari diaspora Afghanistan di luar negeri. (hanoum/arrahmah.id)
