Memuat...

Trump Ancam Ratakan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam

Zarah Amala
Ahad, 22 Maret 2026 / 3 Syawal 1447 10:58
Trump Ancam Ratakan Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam 48 Jam
Selat Hormuz (media sosial)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Situasi di Timur Tengah mendidih kembali setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras kepada Teheran. Lewat unggahan di Truth Social, Trump memberikan waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz secara total atau menghadapi kehancuran infrastruktur energinya. Trump mengancam akan melenyapkan pembangkit listrik Iran, dimulai dari yang terbesar, jika tenggat waktu pada Senin (23/3/2026) pukul 23:44 GMT tidak dipenuhi.

Ancaman ini muncul hanya sehari setelah Trump sempat mengisyaratkan akan mengurangi operasi militer. Eskalasi mendadak ini dipicu oleh serangan rudal paling merusak dari Iran ke wilayah 'Israel' selatan yang berhasil menembus sistem pertahanan udara dan melukai lebih dari 100 orang.

Dua rudal Iran menghantam bangunan residensial di 'Israel' selatan. Di Dimona, lokasi yang diyakini sebagai pusat nuklir 'Israel', seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun luka parah. Di Arad, 84 orang terluka akibat hantaman langsung yang menghancurkan fasad bangunan.

Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim serangan ke Dimona adalah balasan atas sabotase 'Israel' terhadap fasilitas nuklir Natanz. Iran juga menargetkan pangkalan militer AS di Kuwait dan UEA sebagai bagian dari operasi balasan mereka.

Menanggapi ultimatum Trump, militer Iran mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan desalinasi (pengolahan air minum) milik AS dan sekutunya di seluruh kawasan jika pembangkit listrik mereka diserang.

Iran menegaskan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz hanya berlaku bagi negara-negara yang terlibat menyerang Iran. Namun, blokade de facto ini telah membuat harga minyak mentah dunia melonjak di atas $105 per barel.

Pejabat Inggris melaporkan bahwa Iran mencoba menyerang pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia (berjarak sekitar 4.000 km). Meski gagal, ini menunjukkan kemampuan jangkauan rudal Iran yang semakin luas.

Di tengah ketegangan ini, ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan sedang menuju Timur Tengah. Sementara itu, koalisi negara termasuk Inggris, Prancis, Jerman, dan beberapa negara Asia-Teluk mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk penutupan Selat Hormuz.

Trump sendiri mengkritik sekutu NATO sebagai "penakut" dan mendesak mereka untuk mengambil peran lebih aktif dalam mengamankan jalur pasokan minyak dunia tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)