Memuat...

Trump Beri Kode "Endgame": Operasi Militer di Iran Bakal Diakhiri Bertahap?

Zarah Amala
Ahad, 22 Maret 2026 / 3 Syawal 1447 10:44
Trump Beri Kode "Endgame": Operasi Militer di Iran Bakal Diakhiri Bertahap?
Presiden AS Donald Trump (kiri) bertemu dengan Utusan Khusus Steve Wittkopf di Gedung Putih pada tahun 2025 (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Memasuki pekan keempat perang, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan mengejutkan melalui platform Truth Social. Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat hampir mencapai seluruh tujuannya dalam operasi militer terhadap Iran dan kini tengah mempertimbangkan untuk mengakhiri keterlibatan militer besar-besaran di Timur Tengah secara bertahap.

Di balik layar, laporan dari Axios menyebutkan adanya diskusi awal mengenai jalur diplomatik yang melibatkan sosok kunci seperti Jared Kushner dan utusan khusus Steve Witkoff. Meskipun 2.500 marinir baru saja dikirim ke kawasan, langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari posisi tawar terakhir sebelum beralih ke meja perundingan.

AS menuntut Iran untuk menghentikan program rudal balistik selama 5 tahun, menghentikan pengayaan uranium, serta membongkar fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordow dengan pengawasan internasional yang sangat ketat.

Iran meminta gencatan senjata total, jaminan keamanan agar perang tidak terulang, serta ganti rugi perang. Pejabat AS menyebut ganti rugi ini mungkin akan disiasati dengan pengembalian aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.

Trump menegaskan bahwa setelah ancaman Iran dinetralkan, tanggung jawab menjaga Selat Hormuz harus diambil alih oleh negara-negara pengguna jalur tersebut. "AS tidak menggunakan jalur itu, jadi mereka yang butuh yang harus menjagany.

Di tengah perayaan Idulfitri dan Nawruz, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, merilis pesan yang tetap menantang. Ia mengeklaim rakyat Iran telah memberikan "pukulan telak yang membingungkan" kepada musuh melalui persatuan dan perlawanan.

Presiden Vladimir Putin memanfaatkan momen Nawruz untuk mengirim pesan kepada Teheran, menegaskan bahwa Moskow tetap menjadi sahabat setia dan mitra terpercaya bagi Iran di tengah tekanan global.

Meskipun ada sinyal perdamaian, situasi tetap sangat cair. Mojtaba Khamenei sebelumnya dilaporkan menolak proposal de-eskalasi dari negara mediator dan bersikeras pada misi balas dendam atas kematian ayahnya, Ali Khamenei. Namun, klaim pejabat AS bahwa Teheran mulai goyah dan siap berunding menunjukkan bahwa tekanan militer lewat operasi Epic Fury mungkin mulai membuahkan hasil diplomasi. (zarahamala/arrahmah.id)