Memuat...

AS dan Mali Bangun Aliansi Baru Lawan Jihadis Sahel

Hanoum
Selasa, 10 Maret 2026 / 21 Ramadan 1447 05:30
AS dan Mali Bangun Aliansi Baru Lawan Jihadis Sahel
Pemimpin junta Mali Assimi Goita dan Presiden AS Donald Trump. [Foro: PAVEL BEDNYAKOV dan Kyle Mazza/Anadolu melalui Getty Images]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Amerika Serikat (AS) dan Mali tengah merintis kembali kerja sama keamanan untuk memerangi kelompok jihadis di kawasan Sahel melalui kesepakatan baru yang memungkinkan operasi pengawasan udara dan drone Amerika di wilayah tersebut. Kesepakatan ini menandai upaya Washington untuk memperkuat kembali aliansi keamanan dengan Bamako setelah hubungan kedua negara sempat memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut sejumlah pejabat Amerika yang mengetahui negosiasi tersebut, seperti dilansir Business Insider (9/3/2026), Washington hampir mencapai kesepakatan yang memungkinkan pesawat pengintai dan drone Amerika kembali melakukan operasi intelijen di wilayah udara Mali guna memantau aktivitas kelompok  militan yang berafiliasi dengan al Qaeda, terutama jaringan Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM), dan kelompok militan Islamic State (ISIS) yang aktif di Sahel.

Jika terealisasi, kerja sama tersebut akan menjadi langkah penting dalam membangun kembali hubungan keamanan antara kedua negara sekaligus memperkuat upaya kontra-terorisme di kawasan Sahel yang selama bertahun-tahun dilanda pemberontakan kelompok militan. Operasi pengawasan udara tersebut bertujuan mengumpulkan intelijen terhadap jaringan jihadis yang semakin memperluas pengaruhnya di Afrika Barat.

Langkah ini juga menunjukkan perubahan pendekatan kebijakan Amerika Serikat terhadap pemerintah militer Mali. Washington sebelumnya menjatuhkan sanksi setelah kudeta militer di negara itu, namun kini mulai melonggarkan tekanan dan kembali membuka kerja sama keamanan guna menghadapi ancaman ekstremisme yang terus meningkat.

Kawasan Sahel—yang membentang dari Mali hingga Niger dan Burkina Faso—dalam beberapa tahun terakhir menjadi pusat aktivitas kelompok militan yang berafiliasi dengan al-Qaeda dan ISIS. Serangan terhadap militer maupun warga sipil terus meningkat, menjadikan wilayah tersebut salah satu kawasan dengan tingkat kekerasan ekstremisme tertinggi di dunia. (hanoum/arrahmah.id)