Memuat...

Presiden asy Syaraa Dukung Lebanon Melucuti Senjata Hizbullah

Hanoum
Selasa, 10 Maret 2026 / 21 Ramadan 1447 03:55
Presiden asy Syaraa Dukung Lebanon Melucuti Senjata Hizbullah
Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa. [Foto: SANA]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Presiden Suriah Ahmad asy Syaraa menyatakan dukungan terbuka terhadap upaya pemerintah Lebanon untuk melucuti senjata kelompok Syiah Hezbollah, sebuah langkah yang menandai perubahan penting dalam dinamika politik kawasan. Asy Syaraa menegaskan bahwa Damaskus berdiri di belakang Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam upaya mengembalikan monopoli penggunaan senjata kepada negara Lebanon.

Dalam pernyataan yang dikutip dari Al Arabiya (9/3/2026), Asy Syaraa menyatakan Suriah berdiri bersama Presiden Lebanon Joseph Aoun dalam melucuti senjata Hizbullah, serta mendukung langkah pemerintah Beirut untuk memperkuat otoritas negara dan menghindari konflik yang lebih luas di kawasan.

Dukungan dari Damaskus muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional setelah pertempuran baru antara Hizbullah dan 'Israel' memicu serangan udara dan operasi militer di Lebanon selatan. Konflik yang meluas telah menimbulkan ratusan korban jiwa dan memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka.

Pemerintah Lebanon sendiri dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan tekanan terhadap kelompok bersenjata di luar kendali negara. Presiden Aoun menegaskan bahwa negara harus memegang monopoli penggunaan senjata, sementara pemerintah yang dipimpin Perdana Menteri Nawaf Salam berkomitmen memperkuat otoritas negara di seluruh wilayah Lebanon.

Namun, langkah tersebut menghadapi perlawanan keras dari Hizbullah. Tokoh parlemen kelompok itu menegaskan organisasi tersebut akan mempertahankan keberadaannya dengan segala cara, menandakan potensi ketegangan domestik yang semakin tajam jika upaya pelucutan senjata benar-benar dijalankan.

Para analis menilai dukungan Suriah terhadap agenda Beirut merupakan perkembangan signifikan, mengingat hubungan historis yang kompleks antara Damaskus, Lebanon, dan Hizbullah. Tekanan internasional terhadap kelompok yang didukung Iran itu juga meningkat, seiring seruan dari sejumlah pihak internasional agar Hizbullah menghentikan operasi militernya dan menyerahkan senjata kepada otoritas negara Lebanon.

Situasi tersebut menempatkan Lebanon pada persimpangan penting antara stabilitas negara dan potensi eskalasi konflik regional, dengan masa depan Hizbullah kini menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)