DUBAI (Arrahmah.id) - Konflik regional di Timur Tengah memasuki fase yang semakin berbahaya setelah Markas Militer Khatam al-Anbiya Iran mengumumkan serangan besar-besaran terhadap basis militer Amerika Serikat di Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA). Menggunakan senjata presisi, Iran mengklaim telah menghantam radar, gudang bahan bakar, dan dua landasan pacu di Pangkalan Udara Ali Al-Salem (Kuwait), serta menargetkan peralatan militer AS di Pangkalan Udara Al-Dhafra (UEA).
Sejak dimulainya serangan balasan Iran terhadap agresi AS-'Israel', tercatat sedikitnya 13 orang tewas di wilayah Teluk, termasuk 7 warga sipil. Washington juga mengonfirmasi 6 personel militer AS gugur, dengan 4 di antaranya tewas dalam serangan di Kuwait.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Kolonel Saud Al-Atwan, menyatakan militer Kuwait telah berupaya mencegat gelombang rudal dan drone Iran sejak Jumat dini hari (6/3/2026). Dilaporkan 67 tentara Kuwait terluka, angka tertinggi di antara militer negara Teluk sejauh ini. Ledakan baru kembali terdengar di Kota Kuwait pada Jumat malam saat pertahanan udara mencoba menghalau intrusi udara.
Sementara itu, sirine peringatan berbunyi dua kali dalam satu jam di seluruh kota di Bahrain. Komando Pusat Pasukan Pertahanan Bahrain melaporkan telah menghancurkan 84 rudal dan 147 drone sejak awal agresi Iran.
Di Arab Saudi, juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen Turki Al-Malki, mengonfirmasi pencegatan rudal balistik yang menyasar Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Selain itu, 4 drone Iran dihancurkan di wilayah Rub' al-Khali saat mencoba menyerang ladang minyak Shaybah.
Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan 10 drone Iran memasuki wilayahnya. Sembilan di antaranya berhasil dijatuhkan, sementara satu drone menghantam area yang tidak berpenghuni tanpa menimbulkan korban jiwa.
Serangan-serangan ini merupakan balasan langsung Iran atas pengeboman besar-besaran yang dilakukan AS dan 'Israel' terhadap wilayah mereka sejak Sabtu pekan lalu (28/2). Meluasnya teater peperangan ke negara-negara Teluk telah melumpuhkan aktivitas ekonomi regional dan menempatkan jutaan warga sipil serta ribuan tentara asing dalam risiko tinggi. (zarahamala/arrahmah.id)
