Saat Nurani Dunia Diuji
Dunia kembali menyaksikan luka yang sama: penderitaan rakyat Palestina yang tiada henti. Kali ini, tragedi menyentuh nurani umat manusia melalui kisah Global Sumud Flotilla, kapal-kapal pembawa obat, makanan, dan harapan yang diculik oleh pasukan Israel saat hendak menembus blokade Gaza. Di atas kapal itu, bukan hanya muatan logistik, tetapi simbol kemanusiaan yang menolak tunduk pada tirani.
Saat bantuan kemanusiaan dihentikan, dunia tidak hanya kehilangan kapal, tetapi kehilangan rasa. Peristiwa ini menjadi ujian terbesar bagi nurani umat manusia, termasuk bagi generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus digital: Generasi Z.
Di berbagai belahan dunia, London, Paris, Roma, hingga Brussel, masyarakat turun ke jalan. Mereka membawa satu pesan, "kemanusiaan telah dilecehkan". Namun ada satu fakta yang menggugah harapan, Gen Z di Maroko turut bergerak, menentang pencegatan kapal kemanusiaan dan menggemakan solidaritas bagi Gaza.
Mereka menunjukkan bahwa kepedulian tidak mengenal jarak, dan perjuangan tidak harus menunggu dewasa.
Aksi-aksi seperti ini menjadi simbol bahwa hati nurani belum mati. Bahwa di tengah keletihan dunia, masih ada generasi muda yang memilih berdiri, bukan berdiam. Mereka memahami bahwa menolak ketidakadilan adalah bagian dari iman yang tak pernah padam.
Kemanusiaan yang Terkubur di Laut
Global Sumud Flotilla bukan sekadar armada kemanusiaan. Ia adalah lambang perlawanan damai terhadap sistem yang telah lama menindas. Kapal-kapal ini membawa pesan bahwa dunia tidak boleh menyerah pada penjajahan, apa pun bentuknya. Namun, ketika armada ini dicegat dan diculik, Israel menunjukkan wajah aslinya: rezim yang hanya memahami bahasa kekerasan.
Blokade Gaza telah menelan ribuan jiwa dan menghancurkan tatanan kehidupan. Anak-anak tumbuh tanpa masa depan, rumah-rumah berubah menjadi puing, dan air bersih menjadi barang mewah. Ketika kapal yang membawa bantuan obat-obatan dan makanan pun ditahan, dunia harus bertanya: apakah kemanusiaan telah mati?
Namun di tengah kepedihan itu, lahirlah solidaritas global. Kota-kota besar Eropa menyala oleh demonstrasi damai. Bendera Palestina berkibar di antara lautan manusia yang menolak lupa. Dari Maroko, seruan Gen Z bergema: “Kami tidak akan diam.” Mereka menolak kejahatan dibungkus diplomasi, menolak genosida dibungkus kata “keamanan”.
Kemanusiaan hari ini tidak lagi diukur dari kekuatan militer, tetapi dari keberanian untuk menolak zalim. Di sinilah generasi muda tampil sebagai harapan baru: generasi yang tidak lagi terjebak pada narasi buatan media arus utama, melainkan mencari kebenaran sendiri.
Gen Z, Harapan Baru Perlawanan
Gen Z dikenal sebagai generasi digital, tetapi mereka juga generasi nurani. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, menyaksikan kebenaran dan kebohongan bercampur menjadi satu. Namun, di antara badai propaganda, mereka memilih berpihak pada yang tertindas.
Aksi protes Gen Z di Maroko menjadi bukti nyata. Mereka bukan sekadar “aktivis layar”, tetapi manusia yang sadar bahwa solidaritas tidak boleh berhenti di unggahan media sosial. Mereka turun ke jalan, menolak bungkam, dan membawa pesan kepada dunia: Palestina bukan isu asing, melainkan urusan hati seluruh umat manusia.
Kepedulian ini lahir dari kepekaan spiritual. Gen Z Muslim, khususnya, melihat Palestina bukan hanya persoalan politik, tetapi juga tanggung jawab iman. Di setiap serangan terhadap Gaza, mereka melihat cermin: sejauh mana keimanan kita mampu melahirkan aksi nyata?
Di dalam dunia yang penuh distraksi, Gen Z menunjukkan bahwa idealisme belum mati. Mereka mengajarkan bahwa menulis tagar, berbagi informasi, dan menyuarakan keadilan adalah bagian dari perjuangan. Karena dalam Islam, setiap kata yang digunakan untuk menegakkan kebenaran adalah jihad.
Kegagalan Konsep Two State Solution
Selama puluhan tahun, dunia dibuai dengan konsep Two State Solution, solusi dua negara yang seolah menjadi jalan damai antara Palestina dan Israel. Namun realitas di lapangan berkata sebaliknya. Alih-alih menghadirkan keadilan, konsep ini justru memperpanjang penjajahan.
Two State Solution hanyalah topeng diplomasi. Ia menuntut Palestina menerima sisa tanah yang terus mengecil, sementara penjajah terus membangun pemukiman ilegal. Ia memaksa rakyat tertindas untuk bernegosiasi dengan pelaku kejahatan, seolah keduanya setara.
Bahkan ketika dunia internasional membicarakan perdamaian, peluru tetap ditembakkan, rumah tetap dihancurkan, dan anak-anak tetap terbunuh. Maka, bagaimana mungkin keadilan bisa lahir dari kesepakatan yang timpang?
Menolak Two State Solution bukan berarti menolak perdamaian. Sebaliknya, itu adalah seruan untuk menghadirkan keadilan yang sejati. Perdamaian tanpa keadilan hanyalah istirahat sementara bagi kezaliman.
Dunia membutuhkan keberanian untuk berkata: tidak ada perdamaian dalam penindasan. Palestina bukan masalah dua negara, tetapi masalah penjajahan yang menuntut pembebasan total. Dan pembebasan itu hanya mungkin terwujud jika ada sistem yang menolak kompromi terhadap kezaliman.
Jalan Keadilan: Negara dengan Syariat Islam
Sejarah telah mencatat, ketika syariat Islam ditegakkan secara menyeluruh, keadilan menjadi nyata, bukan sekadar wacana. Negara yang berlandaskan syariat tidak membedakan manusia atas dasar ras atau agama, tetapi menegakkan hukum atas dasar kebenaran.
Di dalam konsep bernegara seperti itu, tidak ada ruang bagi penjajahan, karena tanah mana pun yang dizalimi menjadi tanggung jawab seluruh umat. Nilai ini yang hilang dalam sistem dunia modern yang terpecah oleh kepentingan politik dan ekonomi.
Syariat Islam bukan sekadar hukum, tetapi jalan hidup. Ia mengatur keadilan sosial, ekonomi, dan kemanusiaan. Berbicara konteks Palestina, hanya sistem yang menjadikan keadilan sebagai prinsip utama yang mampu menghentikan darah yang mengalir.
Perjuangan membebaskan Palestina adalah perjuangan membangkitkan kembali nilai keadilan itu. Jihad bukan sekadar pertempuran fisik, tetapi juga perjuangan moral untuk menegakkan kebenaran dan menolak kompromi terhadap kebatilan.
Negara yang menyerukan dan menegakkan syariat Islam secara menyeluruh akan berdiri sebagai pelindung, bukan hanya bagi Muslim, tetapi bagi seluruh manusia yang menginginkan keadilan. Sebagaimana Rasulullah ﷺ menegakkan Piagam Madinah, di mana semua umat, termasuk Yahudi dan Nasrani, hidup damai di bawah keadilan Islam.
Seruan untuk Gen Z
Generasi Z memiliki kekuatan besar: suara, kreativitas, dan akses terhadap dunia. Namun kekuatan itu tidak boleh berhenti di dunia maya. Ia harus menjelma menjadi aksi nyata.
Menolak Two State Solution adalah wujud kesadaran bahwa perdamaian sejati tidak mungkin dibangun di atas ketidakadilan. Setiap kali dunia memaksa Palestina untuk “berdamai” dengan penjajahnya, sejatinya dunia sedang mengabadikan luka.
Gen Z memiliki peran penting dalam membalikkan narasi. Mereka bisa menjadi penggerak opini, pembuat konten, penulis, pendidik, dan aktivis yang membawa nilai Islam dalam cara modern dan cerdas. Sebab, perjuangan di zaman ini bukan hanya di medan perang, tetapi juga di medan informasi dan kesadaran.
Setiap unggahan yang menolak kezaliman adalah bagian dari jihad informasi. Setiap konten yang menyadarkan masyarakat tentang kebenaran Palestina adalah bentuk ibadah sosial. Sebab menegakkan kebenaran adalah perintah, dan diam terhadap kebatilan adalah dosa.
Saat Nurani dan Iman Bertemu
Palestina bukan sekadar tanah yang dijajah, tetapi simbol keadilan yang ditelantarkan dunia. Menolak Two State Solution bukan soal politik, tetapi soal keberpihakan moral dan spiritual.
Generasi Z, dengan segala kecerdasannya, memiliki tugas mulia: menjadi generasi yang tidak menormalisasi kezaliman. Dunia telah cukup lama tertipu oleh diplomasi semu; kini saatnya suara muda berbicara lantang.
Mereka bukan hanya saksi sejarah, tetapi pembuat sejarah. Dan sejarah akan mencatat bahwa di masa ketika dunia bungkam, Gen Z berdiri bersama Palestina bukan dengan amarah, tetapi dengan iman.
Karena pada akhirnya, keadilan hanya akan lahir dari sistem yang menegakkan syariat Allah secara menyeluruh dan adil.
Selama masih ada iman dalam hati, Palestina tidak akan pernah sendiri.
