Memuat...

Siswa dan Guru Palestina Jadi Target Gas Air Mata Remaja 'Israel' saat Karyawisata

Zarah Amala
Jumat, 6 Februari 2026 / 19 Syakban 1447 18:06
Siswa dan Guru Palestina Jadi Target Gas Air Mata Remaja 'Israel' saat Karyawisata
Warga Palestina di 'Israel' melakukan protes di Tel Aviv menentang gelombang kejahatan dan kekerasan di komunitas mereka, pada 31 Januari 2026 (Reuters/Ammar Awad)

SAKHNIN (Arrahmah.id) - Sekelompok siswa 'Israel' menyerang guru dan murid Palestina dari Sekolah Ibn Khaldoun, Sakhnin, saat mereka sedang melakukan karyawisata di area Beisan (Beit She’an), 'Israel' utara, pada Rabu (4/2/2026). Serangan ini mengakibatkan belasan orang harus dilarikan ke rumah sakit akibat paparan gas air mata dan kekerasan fisik.

Pihak kepolisian 'Israel' telah menahan tiga anak di bawah umur yang diduga terlibat, serta seorang pria dewasa yang diyakini sebagai penanggung jawab kelompok penyerang tersebut.

Kepala Sekolah Ibn Khaldoun, Kamal Abu Younis, menjelaskan bahwa serangan tersebut dilakukan menggunakan semprotan merica (pepper spray) serta hinaan verbal yang rasis. Sasaran utama serangan adalah siswa kelas tujuh dan delapan (usia sekitar 13-15 tahun).

"Ini adalah serangan rasis terhadap anak-anak kami. Para penyerang melontarkan hinaan cabul dan rasis," ujar Abu Younis kepada media Arab48. Sekitar 14 siswa dan guru dipindahkan ke HaEmek Medical Center di Afula untuk mendapatkan perawatan akibat luka ringan, terutama pada bagian mata.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan suasana mencekam di lokasi kejadian, di mana para siswa yang ketakutan terlihat duduk di tanah sambil menutupi mata mereka, sementara staf sekolah berusaha memberikan pertolongan pertama menggunakan air untuk membasuh sisa gas air mata.

Insiden ini memicu gelombang kecaman dari para pemimpin komunitas Palestina di 'Israel'. Ayman Odeh, anggota parlemen 'Israel' (Knesset), menyatakan bahwa kekerasan terhadap warga Arab hanya karena identitas mereka telah menjadi fenomena sehari-hari yang mengkhawatirkan.

"Seseorang tidak dilahirkan rasis. Pemerintah yang rasis dan penuh hasutanlah yang memikul tanggung jawab utama," tegas Odeh.

Senada dengan hal tersebut, Komite Tindak Lanjut Pendidikan Arab (FUCAE) memperingatkan bahwa warga Palestina di Israel kini menghadapi ancaman ganda: fasisme yang terarah dan meningkatnya kejahatan terorganisir. Mereka mendesak Kementerian Pendidikan 'Israel' untuk mengambil langkah konkret guna melindungi siswa dan staf pendidikan dari serangan serupa di masa depan.

Warga Palestina di 'Israel', yang merupakan keturunan dari penduduk asli yang tetap tinggal setelah peristiwa tahun 1948, telah lama mengeluhkan praktik diskriminatif. Meskipun memiliki kewarganegaraan, mereka sering melaporkan keterbatasan akses terhadap perumahan, layanan publik, serta kerentanan terhadap serangan rasis dan kriminal yang seringkali luput dari perlindungan negara.

Sebagai bentuk protes, Sekolah Ibn Khaldoun mengadakan demonstrasi pada Kamis pagi (5/2) untuk menuntut berakhirnya rasisme dan peningkatan perlindungan bagi komunitas mereka. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlinePalestinaseranganremaja israelsiswa palestina