TEHERAN (Arrahmah.id) - Perang yang telah memasuki hari ke-26 semakin menjauh dari kata damai setelah Iran menolak proposal 15 poin yang diajukan Amerika Serikat. Proposal yang dikirimkan melalui mediator Pakistan tersebut mencakup tuntutan drastis, mulai dari pembongkaran fasilitas nuklir utama hingga pengakuan kedaulatan di Selat Hormuz.
Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengecam keras proposal tersebut dengan nada sarkastik, menanyakan apakah AS sedang bernegosiasi dengan diri mereka sendiri karena poin-poin yang diajukan dianggap mustahil untuk diterima oleh negara berdaulat.
Apa Saja Isi 15 Poin Trump?
Meskipun Washington tidak merilis detailnya secara resmi, bocoran dari Channel 12 'Israel' dan pejabat Pakistan mengungkapkan poin-poin utama:
-
Gencatan Senjata 30 Hari: Sebagai langkah awal penghentian permusuhan.
-
Pembongkaran Fasilitas Nuklir: Penghancuran total fasilitas di Natanz, Isfahan, dan Fordow (yang sebelumnya sudah sempat dihantam AS pada perang Juni 2025).
-
Larangan Pengayaan Uranium: Iran harus menyerahkan seluruh stok uranium yang diperkaya ke IAEA dan dilarang melakukan pengayaan di dalam negeri selamanya.
-
Akses Selat Hormuz: Pembukaan kembali jalur pelayaran internasional di bawah pengawasan ketat.
-
Pemutusan Hubungan Proksi: Iran diminta menghentikan seluruh dukungan untuk kelompok bersenjata di Lebanon, Irak, dan Yaman.
-
Imbalan: AS menawarkan pencabutan semua sanksi ekonomi dan bantuan pembangkit listrik nuklir sipil di Bushehr.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dan para petinggi militer menetapkan syarat yang tidak kalah berat bagi AS dan 'Israel':
-
Reparasi Perang: Iran menuntut ganti rugi finansial yang sangat besar atas kerusakan infrastruktur dan nyawa yang hilang (termasuk kematian Ali Khamenei).
-
Kedaulatan Selat Hormuz: Teheran tetap bersikeras memegang kendali penuh atas jalur minyak tersebut sebagai alat posisi tawar.
-
Penutupan Pangkalan AS: Menuntut penutupan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
-
Jaminan Internasional: Iran menginginkan jaminan hukum yang mengikat bahwa AS dan Israel tidak akan pernah lagi menyerang wilayah mereka di masa depan.
Wartawan Dario Sabaghi menyebut bahwa 15 poin Trump sebenarnya dirancang untuk memberi AS kendali penuh atas aset strategis Iran (nuklir dan rudal), sesuatu yang mustahil dilepaskan Iran saat ini. Iran tampaknya tidak tertarik pada gencatan senjata jangka pendek; mereka menginginkan perjanjian jangka panjang yang menjamin keamanan rezim secara total. (zarahamala/arrahmah.id)
