Memuat...

Pengamat: Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Rp335 Triliun Perlu Dipangkas, Jangan Tunggu Defisit APBN

Ameera
Senin, 9 Maret 2026 / 20 Ramadan 1447 05:09
Pengamat: Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Rp335 Triliun Perlu Dipangkas, Jangan Tunggu Defisit APBN
Pengamat: Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Rp335 Triliun Perlu Dipangkas, Jangan Tunggu Defisit APBN

JAKARTA (Arrahmah.id) - Pemerintah membuka opsi untuk memangkas alokasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp335 triliun pada tahun ini.

Namun, langkah tersebut baru akan dilakukan apabila defisit anggaran melampaui batas 3 persen dari APBN 2026 akibat lonjakan harga minyak dunia.

Menanggapi hal itu, Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah menilai sikap pemerintah tersebut masih terlihat ragu-ragu dalam melakukan efisiensi anggaran.

Menurutnya, menjadikan defisit 3 persen sebagai syarat pemangkasan menunjukkan pemerintah belum benar-benar memiliki niat kuat untuk mengurangi anggaran program tersebut.

“Kalau pakai cara seperti itu sepertinya rencana pemangkasan MBG ini setengah hati. Ada keraguan-keraguan. Jadi saya melihat pemerintah seperti tidak benar-benar berniat memangkas,” ujar Trubus, dikutip dari Kontan.co.id, Ahad (8/3/2026).

Trubus berpandangan bahwa pemerintah seharusnya tidak perlu menunggu kondisi ekonomi memburuk untuk mengevaluasi besaran anggaran program tersebut.

Menurutnya, nilai Rp335 triliun sudah terlalu besar dan berpotensi membebani kas negara jika tidak segera disesuaikan.

Ia menilai evaluasi anggaran harus dilakukan sejak sekarang agar program tetap berjalan efektif tanpa membebani fiskal negara.

“Harusnya sekarang sudah saatnya dipangkas. Anggaran Rp335 triliun itu terlalu besar. Tidak perlu menunggu situasi buruk dulu baru dipotong,” tegasnya.

Selain itu, Trubus juga mengusulkan agar program MBG tidak lagi dijalankan secara besar-besaran. Ia menyarankan pemerintah mempersempit sasaran penerima manfaat, terutama kepada kelompok yang paling membutuhkan.

Menurutnya, program tersebut sebaiknya difokuskan kepada anak-anak dari keluarga miskin ekstrem serta dibatasi pada jenjang pendidikan tertentu seperti sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).

Ia menjelaskan bahwa pemberian makanan bergizi untuk siswa SMA dinilai tidak terlalu efektif dalam meningkatkan kecerdasan, karena perkembangan otak utama anak sudah terbentuk pada usia yang lebih dini.

“Untuk meningkatkan kecerdasan itu sebenarnya dimulai sejak bayi. Kalau sejak bayi sudah mendapat gizi yang baik, ketika mereka besar kecerdasannya akan terbentuk,” ujarnya.

Terkait besaran pemangkasan, Trubus memperkirakan anggaran MBG dapat dikurangi sekitar 20 hingga 25 persen, bahkan hingga separuh dari total anggaran saat ini. Dengan pengurangan tersebut, anggaran yang tersedia bisa dialokasikan lebih tepat sasaran.

Ia menyarankan agar sebagian dana dialihkan untuk program yang berdampak lebih besar terhadap pencegahan stunting, seperti dukungan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui.

“Kalau melihat situasi sekarang, pemangkasan sekitar 20 sampai 25 persen masih masuk akal. Bahkan bisa sampai separuh, tapi fokusnya benar-benar untuk anak-anak miskin serta ibu hamil dan menyusui,” pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)