Memuat...

Adab Islami: Suarakan Aspirasi Tanpa Anarki

Oleh Hana Annisa Afriliani, S.S
Ahad, 31 Agustus 2025 / 8 Rabiulawal 1447 07:24
Adab Islami: Suarakan Aspirasi Tanpa Anarki
Ilustrasi. (Foto: tirtoid)

Unjuk rasa mewarnai depan gedung DPR pada Senin (28/8/2025) yang diikuti oleh perorangan, mahasiswa, pelajar, dan para pengemudi ojek online. Tuntutan utama mereka adalah meminta dibatalkannya kenaikan tunjangan anggota dewan.

Sebagaimana dilansir oleh detik.com (30/8/2025) bahwa sesuai dengan surat edaran sekjen DPR RI NO.KU.00/9414/DPR RI/XII/2010, ada sejumlah komponen tunjangan anggota DPR mulai dari tunjangan kehormatan, tunjangan komunikasi intensif, hingga berbagai fasilitas seperti uang sidang, asisten anggota, listrik, telepon, dan tunjangan beras. Total keseluruhan tunjangan tersebut di tambah gaji pokok adalah Rp100 juta lebih per bulan. Fantastis!

Aksi unjuk rasa kemudian terjadi lagi pada Kamis (27/8/2025). Pada mulanya di depan Gedung DPR dipenuhi oleh buruh dari berbagai serikat pekerja. Tuntutannya terkait kebijakan ketenagakerjaan, mulai dari outsourcing dan meminta kenaikan upah minimum buruh. Aksi masih kondusif hingga sore hari. Namun, malam harinya, terjadi insiden seorang driver ojek online yang dilindas oleh mobil Rantis Brimob yang menyebabkan suasana aksi kian memanas. Kemarahan terhadap polisi pun bergejolak. Hingga Jumat, demo masih berlanjut. Para pengunjuk rasa dari kalangan pengemudi Ojol berkumpul di depan Mako Brimob Kwitang untuk menuntut keadilan atas meninggalnya Affan yang dilindas mobil Rantib Brimob.

Sementara di depan Polda Metro Jaya, aksi dipenuhi oleh pada mahasiswa. Suasana mencekam, lemparan batu massa dari segala arah menghiasi pemandangan, sementara polisi membalasnya dengan tembakan gas air mata dan desing peluru.

Tak hanya itu, aksi bakar gedung DPR di berbagai daerah pun terjadi. Sebagaimana diberitakan oleh kompas.com (30/8/2025) bahwa gedung DPRD Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dibakar massa yang melakukan aksi unjuk rasa. Akibat pembakaran tersebut, sebanyak tiga orang tewas, termasuk
staf Humas DPRD Makassar, Muh Akbar Basri alias Abay, tewas karena terjebak di dalam gedung.

Di Kediri tak jauh beda. Aksi yang berlangsung di depan markas Kepolisian Resor (Polres) Kediri Kota di Jalan Shodanco Supriyadi itu diwarnai perusakan markas Polres.Selain merusak sejumlah infrastruktur bangunan, massa juga merusak sejumlah mobil yang terparkir di sekitar Mapolres, serta membakar sebuah sepeda motor.

Tak hanya itu, Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nisa Tenggara Barat (NTB) dibakar massa. Barang-barang di dalam gedung DPRD NTB ada yang dijarah massa. (Detik.com/30-08-2025)

Belum selesai sampai di situ, massa aksi menyambangi rumah Sahroni, Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Nasdem, di Tanjung Priok. Dalam menanggapi demo menuntut pembubaran DPR, sang politisi pernah mengatakan, "Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia. Catat nih, orang yang cuma bilang bubarin DPR itu adalah orang tolol sedunia. Kenapa? Kita nih memang orang semua pintar semua? Enggak bodoh semua kita,"

Ucapan Sahroni tersebut jelas melukai rakyat, dan pada akhirnya diluapkan dengan merusak rumah Sahroni dan menjarah isi rumahnya bahkan brangkas uangnya lalu dibagikan kepada warga. Miris!

Bukan hanya Sahroni, Rumah Anggota DPR Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio didatangi massa pada Sabtu 30 Agustus 2025, malam. Massa masuk ke dalam rumah dan mengambil barang-barang. Rumah Uya Kuya pun terkena sasaran penjarahan. Masyarakat juga tersinggung dengan ucapan keduanya dan aksi joget-jogetnya di gedung DPR. (Liputan6.com/30/8/2025)

Potret Negeri Sakit

Sangat menyedihkan dan disayangkan, aksi yang semula menyuarakan aspirasi, malah berujung pada tindakan anarkis bahkan kriminal. Tindakan tersebut tentu saja tidak dapat dibenarkan, meski tak bisa dimungkiri terlalu banyak luka yang sudah ditorehkan oleh para pejabat atas rakyatnya. Namun sesungguhnya tindakan pengrusakan dan penjarahan merupakan hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh rakyat.

Mengoreksi Tanpa Anarki

Dalam kacamata Islam, mengoreksi penguasa merupakan sebuah aktivitas mulia. Ketika kezaliman terpampang nyata di depan mata, maka kewajiban kaum muslimin untuk bersuara. Menyampaikan nasihat agar penguasa sadar akan kezalimannya.

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadis ini hasan)

“Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangan-nya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaknya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim).

Namun demikian, penyampaian nasihat tersebut harus dilakukan secara makruf, yakni dengan adab yang baik.

"Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk." (An-Nahl: 125)

Melakukan aksi anarki, seperti merusak fasilitas umum apalagi sampai melakukan aksi penjarahan jelas tidak dibenarkan dalam Islam. Kita harus tetap mengedapankan akhlak mulia dalam menyuarakan aspirasi. Haram hukumnya melakukan tindakan yang merugikan orang lain haram pula menjarah harta milik orang lain.

Sebagaimana hadis Rasulullah Saw.

لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

Artinya, “Tidak halal mengambil harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaan dirinya.” (HR Ad-Daraquthni)

Penjarahan terkategori memakan harta orang lain tanpa hak. Islam sangat melarang tindakan ini. Allah swt berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya: "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil." QS An-Nisa: 29)

Oleh karena itu, umat Islam harus waspada. Tetaplah melakukan perubahan sesuai dengan keteladanan Rasulullah Saw, jangan terprovokasi oleh keadaan. Dalam kondisi panas, selalu ada oknum yang provoktor yang memperkeruh suasana. Maka, berdirilah di barisan para pejuang perubahan yang sejati, bukan sekadar bertindak berdasarkan emosional namun minim esensi. Wallahu'alam bis shawab

Editor: Hanin Mazaya

unjuk rasademonstrasi