Oleh: Tresna Mustikasari
Pegiat Literasi
Kelaparan kini digunakan sebagai senjata pemusnah massal oleh Zionis Israel dalam genosida sistematis terhadap rakyat Palestina. Bukan sekadar blokade, tapi upaya sengaja untuk mematikan satu generasi dengan pelan dan menyakitkan. Rumah sakit kolaps, bantuan makanan dihalangi, dan ratusan ribu nyawa terus menjadi korban (CNBC Indonesia, 18/5/2025). Kekejaman ini telah berlangsung selama lebih dari dua bulan tanpa henti.
Namun, perang kotor seperti ini bukan hal baru. Sejarah telah mencatat bahwa genosida dan kelaparan sering dijadikan alat oleh penjajah untuk memusnahkan pribumi dan merebut wilayah mereka. Di benua Amerika, penjajah Eropa membantai penduduk asli dan memusnahkan peradaban mereka. Di Afrika, penjajahan Belgia di Kongo menewaskan jutaan rakyat dengan cara yang tak kalah biadab. Di Asia, kolonialisme Belanda, Inggris, dan Perancis mengiringi ekspansi mereka dengan kelaparan, kerja paksa, dan pembunuhan massal.
Kini di Palestina, fakta siapa penjajah dan siapa yang dijajah sangat terang benderang. Rakyat Palestina adalah penduduk asli yang telah mendiami tanah itu selama ribuan tahun. Sedangkan Zionis Israel adalah entitas penjajah yang memaksakan eksistensinya lewat invasi, pemukiman ilegal, dan genosida (Republika, 19/5/2025). Dengan demikian, siapa sebenarnya teroris dan pelaku kejahatan kemanusiaan sangat jelas.
Sayangnya, dunia Barat yang konon menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia justru menunjukkan wajah hipokritnya. Ketika Ukraina diserang, dunia bergemuruh. Tapi ketika Gaza dibakar hidup-hidup, Barat bungkam atau bahkan mendukungnya dengan senjata. Amerika, Inggris, dan Jerman terang-terangan membela Israel dengan narasi “self-defense”, sementara anak-anak Gaza mati kelaparan. Ini adalah wajah dualisme Barat terhadap Islam. HAM menjadi senjata politik, bukan nilai universal. Kemanusiaan hanya berlaku jika pelakunya bukan Israel dan korbannya bukan Muslim.
Lebih memilukan lagi, para pemimpin negeri-negeri Islam justru diam membisu. Liga Arab tak mampu berbuat lebih dari pertemuan dan kecaman. OIC hanya mengeluarkan pernyataan lemah tak bertaji. Bahkan penguasa Mesir dan Yordania secara aktif ikut membatasi bantuan kemanusiaan ke Gaza (Republika, 14/5/2024). Sementara pasukan militer negara-negara Islam tetap diam di barak. Mereka tidak bergerak, karena takut kehilangan kekuasaan. Mereka adalah korban penyakit hubbud dunya wa karohiyatul maut—cinta dunia dan takut mati.
Padahal, jika umat Islam memiliki institusi pelindung seperti Khilafah, situasi ini tak akan dibiarkan berlangsung. Khalifah bukan sekadar pemimpin politik, tapi pelindung umat (junnah) sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Sesungguhnya Imam (Khalifah) adalah perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Muslim)
Dan janji tegaknya kembali Khilafah adalah janji agung dari Allah dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ:
“Kemudian akan kembali muncul Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah.” (HR. Ahmad)
Khilafah bukan utopia. Ia adalah sistem yang dijanjikan akan kembali, dan merupakan solusi sejati atas penderitaan Palestina. Sebab Khilafah tak hanya menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan, tetapi juga menjadikan jihad sebagai metode pembebasan negeri-negeri kaum Muslimin dari penjajahan.
Alhamdulillah, hari ini telah ada kelompok dakwah yang secara konsisten dan ideologis memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah. Kelompok ini bukan sekadar gerakan amal atau sosial, tapi membawa fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode) yang murni dari Islam. Mereka berdakwah sebagaimana dakwah Rasulullah ﷺ: membangun kesadaran umat, mengoreksi penguasa, dan menolak kompromi dengan sistem kufur. Mereka menempuh jalan dakwah ma’al ummah, bukan jalan kekerasan atau kompromi politik.
Maka, tugas kita hari ini adalah menyambut dakwah ini dengan kesadaran penuh. Menjadi bagian dari perjuangan mulia ini. Karena hanya Khilafah yang akan menghentikan darah yang tumpah, kelaparan yang disengaja, dan genosida yang tak berkesudahan.
Wallahu a’lam bis shawab
