GAZA (Arrahmah.id) - Program "At-Tasi'ah" di saluran Al Jazeera mengupas tuntas dimensi strategis di balik pembentukan milisi Palestina pro-'Israel' yang terlibat dalam pembunuhan petinggi keamanan Gaza, Ahmed Abdul Bari Zamzam alias "Abu al-Majd". Diskusi yang menghadirkan pakar urusan 'Israel', Muhannad Mustafa, dan analis politik Iyad al-Qarra ini mengungkap bagaimana milisi tersebut menjadi alat utama Tel Aviv untuk menyabotase keamanan Gaza dari dalam.
Muhannad Mustafa menjelaskan bahwa 'Israel' secara strategis beralih menggunakan milisi lokal sebagai instrumen operasionalnya karena beberapa alasan fundamental yang saling berkaitan. Pertama, penggunaan proksi ini bertujuan untuk meminimalisir risiko militer, di mana operasi pembunuhan di dalam wilayah "Garis Kuning" dapat dilakukan tanpa harus membahayakan nyawa tentara 'Israel' secara langsung. Kedua, strategi ini berfungsi sebagai alat manipulasi opini publik untuk menciptakan narasi seolah-olah konflik yang terjadi merupakan perang saudara antar-faksi internal Palestina, sehingga mengaburkan keterlibatan pihak luar. Terakhir, keberadaan milisi ini menjadi sarana kamuflase gencatan senjata yang efektif, karena memungkinkan 'Israel' untuk terus menyerang target-target strategis tanpa terlihat melanggar kesepakatan gencatan senjata secara formal di mata dunia internasional.
Muhannad Mustafa menambahkan bahwa 'Israel' saat ini tengah mereplikasi model "Tentara Lebanon Selatan" (SLA) di wilayah Gaza, di mana milisi bentukannya tidak hanya menjalankan tugas-tugas militer, tetapi juga memegang fungsi administratif sebagai sebuah "Pemerintah Bayangan". Peran strategis kelompok ini mencakup pengawasan perbatasan, termasuk keterlibatan dalam pengelolaan Penyeberangan Rafah serta melakukan pemprofilan terhadap warga yang melintas.
Selain itu, keberadaan milisi ini berfungsi sebagai hambatan nyata bagi efektivitas gencatan senjata; mereka menghalangi upaya pelucutan senjata atau penarikan pasukan perlawanan karena faksi-faksi tersebut akan merasa terancam oleh keberadaan elemen lokal bersenjata ini jika mereka melepaskan senjata mereka. Terakhir, milisi ini menjadi instrumen penyusupan yang efektif untuk menjangkau area-area padat penduduk yang selama ini sulit ditembus oleh unit penyamaran 'Israel' "Mista'arvim" tanpa terdeteksi.
Evolusi dari Geng Kriminal Menjadi Proksi Bersenjata
Analis politik Iyad al-Qarra mengungkapkan fakta memilukan mengenai asal-usul milisi ini. Ia menyebut kelompok ini bermula dari gerombolan pencuri yang memanfaatkan krisis kemanusiaan setahun lalu untuk menjarah truk bantuan.
Ketika aparat keamanan Gaza mencoba menertibkan mereka, 'Israel' mengintervensi dengan memberikan perlindungan militer dan merekrut mereka. "Peran mereka berkembang dari sekadar bandit jalanan menjadi alat pembunuhan presisi terhadap komandan perlawanan dan alat untuk menciptakan 'celah sosial' di tengah masyarakat Gaza," ujar Al-Qarra.
Keberadaan milisi di "Zona Kuning", area paling sensitif secara keamanan, memungkinkan mereka bergerak bebas untuk melakukan pengintaian dan serangan akurat. Kematian "Abu al-Majd" pada Desember lalu ditegaskan bukan sebagai insiden tunggal, melainkan bagian dari desain besar 'Israel' untuk meruntuhkan ketahanan domestik Gaza melalui proksi lokal yang memiliki akses tanpa batas ke target-target strategis. (zarahamala/arrahmah.id)
