Memuat...

Neraka di Gaza: Ketika Tentara 'Israel' Menangis dalam Diam

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Jumat, 8 Agustus 2025 / 15 Safar 1447 06:44
Neraka di Gaza: Ketika Tentara 'Israel' Menangis dalam Diam
Neraka di Gaza: Ketika Tentara 'Israel' Menangis dalam Diam

Di balik sorotan kamera dan laporan kemenangan, ada suara-suara yang tak terdengar—jeritan batin dari para tentara Israel yang kini terjebak dalam labirin kehancuran di Gaza. Mereka bukan lagi pasukan yang gagah berani di poster propaganda. Mereka adalah manusia yang kelelahan, yang jiwanya mulai retak di bawah beban perang yang tak berkesudahan.

Beit Hanoun, kota kecil di utara Gaza, kini tak lagi bernyawa. Lebih dari 650 bangunan telah dihancurkan oleh Brigade Givati. Jalanan yang dulu dipenuhi anak-anak dan pedagang, kini menjadi lorong kematian. Tentara berjalan di antara reruntuhan, bukan sebagai pemenang, tetapi sebagai saksi bisu dari tragedi yang mereka sendiri tak lagi pahami.

Seorang tentara, yang identitasnya disamarkan oleh media Haaretz, mengaku, “Kami kelelahan. Kami ingin keluar dari sini. Ini bukan kemenangan, ini neraka.”


Kelelahan Mental: Luka yang Tak Berdarah

Kelelahan fisik bisa diobati. Tapi kelelahan mental? Itu merayap pelan, menghancurkan dari dalam. Banyak tentara mulai menunjukkan gejala trauma: insomnia, kecemasan ekstrem, bahkan depresi.

Beberapa dari mereka mulai mempertanyakan narasi resmi yang disampaikan oleh komando militer. Benarkah ribuan pejuang Hamas telah dibunuh? Atau hanya angka-angka kosong untuk menenangkan publik dan menjaga moral pasukan?

Ada yang mulai menolak perintah—bukan karena pemberontakan, tetapi karena tubuh dan pikiran mereka tak lagi sanggup. Mereka tidur dengan senjata di tangan, namun mimpi mereka dipenuhi bayangan ledakan dan wajah-wajah yang tak bisa mereka lupakan.

Dalam satu momen yang mencengangkan, seorang tentara mengaku bahwa mereka diperintahkan untuk menembakkan peluru secara “terkontrol” hanya demi menciptakan efek dramatis dalam video militer. “Kami seperti aktor dalam teater perang,” katanya. “Tapi ini bukan panggung. Ini nyata. Dan kami terluka.”

Video-video itu kemudian disebarkan ke publik, menunjukkan pasukan yang tampak gagah dan tak tergoyahkan. Tetapi di balik layar, mereka menangis. Mereka menulis surat kepada keluarga, bukan dengan harapan, melainkan dengan rasa putus asa.


Tato: Luka yang Diabadikan di Kulit

Ketika kata-kata tak lagi cukup, tubuh menjadi kanvas bagi rasa sakit. Banyak tentara mulai menato tubuh mereka dengan nama rekan yang gugur, tanggal operasi militer, atau koordinat lokasi pertempuran. Bukan sebagai kebanggaan, tetapi sebagai pengingat bahwa mereka pernah ada di sana—dan bahwa luka itu nyata, meski tak terlihat.

Tato itu bukan seni. Itu adalah ratapan. Setiap garis tinta adalah kenangan. Setiap huruf adalah rasa kehilangan. Mereka membawa perang pulang ke rumah, tertanam di kulit mereka, tak bisa dihapus.

Ada yang menato kata-kata seperti “Never Forget” atau “Givati Forever”, tetapi di balik slogan itu ada trauma yang tak terucapkan. Mereka mencoba mengabadikan rasa sakit agar tidak tenggelam dalam propaganda yang menuntut mereka untuk terus maju, terus menembak, dan terus bertahan.


Di Ambang Kehancuran

Konflik di Gaza bukan hanya soal strategi dan statistik. Ini adalah kisah manusia yang terperangkap dalam mesin perang, yang mulai kehilangan arah, kehilangan keyakinan, dan mungkin, kehilangan diri mereka sendiri.

Mereka datang sebagai tentara, tetapi pulang sebagai bayangan dari diri mereka yang dulu. Dan di tengah kehancuran itu, kata-kata Eric Arthur Blair—yang lebih dikenal sebagai George Orwell—bergema seperti nubuat: “In general, the greater the understanding, the greater the delusion; the more intelligent, the less sane.”

Perang bukan hanya menghancurkan kota. Ia menghancurkan logika, menghancurkan harapan, dan pada akhirnya menghancurkan kewarasan. Dalam dunia di mana kebenaran dikaburkan dan kemanusiaan dikorbankan, kegilaan bukanlah pengecualian—ia adalah norma.

(*/arrrahmah.id)

Editor: Samir Musa

HeadlineIsraelPalestinaGaza