Memuat...

Opini: Gaza di Ujung Tombak, Kebutuhan akan Khilafah Makin Mendesak

Oleh Reni Rosmawati Pegiat Literasi
Rabu, 27 Agustus 2025 / 4 Rabiulawal 1447 17:03
Opini: Gaza di Ujung Tombak, Kebutuhan akan Khilafah Makin Mendesak
Ilustrasi. (Foto: Net)

Sebanyak 5 orang jurnalis Al Jazeera yang tengah berada di tenda mereka, dibunuh Zionis. Kelima jurnalis tersebut adalah 3 orang staf operator kamera, satu koresponden, dan satu lainnya wartawan on air. Israel beralibi pembunuhan tersebut sengaja karena salah satu jurnalis bernama Anas Al Sharif terafiliasi dengan Hamas. Pembunuhan jurnalis ini merupakan tindakan Israel yang kesekian kalinya. Sejak 22 bulan terakhir ada sekitar 200 pekerja media yang dibunuh.

Banyak pihak mengecam tindakan Israel tersebut, mulai dari PBB, Uni Eropa, hingga kelompok-kelompok aliansi dunia. Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan para jurnalis harus dilindungi dan dihormati dalam bekerja tanpa intimidasi ataupun bahaya. Dujarric mengungkapkan sebanyak 242 jurnalis telah tewas sejak perang pecah. (Kompas.com, 12/8/2025)

Nasib Palestina kian mengkhawatirkan. Sejak Zionis melakukan pendudukan, tak terhitung berapa banyak korban jiwa. Sejak serangan 7 Oktober 2023 telah menewaskan korban lebih dari 61.800 jiwa, dengan lebih dari 155.000 terluka. Berdasarkan data terbaru yang dirilis UNRWA (Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk Pengungsi Palestina) sebanyak satu juta perempuan dan anak menderita kelaparan massal, kekerasan, serta pelecehan. Dengan total kematian akibat kelaparan mencapai 251 dengan 108 di antaranya merupakan anak-anak. Sementara menurut laporan Kantor Hak Asasi Manusia PBB dari 27 Mei-13 Agustus 2025, setidaknya 1.760 warga Palestina tewas tatkala mencari bantuan. (Antaranews.com, 17/8/2025),

Sebagai respon atas kekhawatiran dunia internasional terhadap warga sipil Palestina, militer Israel berencana merelokasi warga sipil ke selatan. Israel akan menyiapkan tenda perlengkapan tempat tinggal darurat untuk melindungi keselamatan warga sipil. Hal tersebut dikemukakan Israel beberapa hari setelah mengumumkan niatnya melancarkan serangan baru untuk merebut kendali Kota Gaza. Namun ditolak gerakan bersenjata Palestina ‘Hamas’. Ia mengatakan pengerahan tenda dan peralatan perlindungan yang diusulkan Israel hanya tipuan untuk menutup kejahatan brutal yang dilakukan Israel. (CNBC Indonesia, 18/08/2025)

 

Gaza dan Entitas Muslim Palestina akan Dihilangkan, Apakah Umat Tetap Diam?

Selama 77 tahun Israel melakukan pendudukan di Palestina, tak pernah berhenti melakukan kerusakan, pembantaian, dan genosida terhadap warga Palestina. Namun dunia bungkam, karena dalam melancarkan aksinya, Israel selalu bersembunyi di balik kata ‘membela diri dari teroris Hamas’. Akan tetapi sejak para jurnalis datang dan gencar menyiarkan pemberitaan ihwal kejadian di sana, tabir kepalsuan yang selama ini dibuat Israel mulai tersingkap. Akhirnya empati dunia internasional termasuk negara-negara Barat sekutu Israel berubah tertuju pada Palestina. Dunia mengecam tindakan Israel sehingga ia kehilangan dukungan dari dunia internasional.

Hal itu tentu merupakan ancaman bagi Israel yang selama ini getol membangun narasi positif tentang dirinya sendiri melalui mulut-mulut para influencer internasional yang dibayar mahal. Dengan adanya para jurnalis, perang opini maupun pembelaan diri yang mereka andalkan selama ini tak berguna lagi semuanya terbantahkan dengan fakta yang ada.

Maka, sudah bisa dipastikan pembunuhan seluruh para jurnalis hakikatnya adalah alat Israel untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida yang dilakukannya di Gaza. Pembantaian para jurnalis tak hanya sekadar menghilangkan nyawa manusia, namun juga cara Zionis menghilangkan saksi dan memadamkan kebenaran di Palestina, supaya dukungan dunia internasional atas Palestina melemah dan nyawa perjuangan rakyat Gaza sirna. Dengan begitu, Israel dapat leluasa dengan cepat menguasai Palestina serta melakukan genosida secara sunyi senyap.

Maka, umat harus menjadikan syahidnya para jurnalis sebagai alat untuk melanjutkan perjuangan dan memperbesar suara kebenaran sebagaimana yang dilakukan mereka. Umat harus terus bersuara sebagai penyambung lidah para jurnalis agar para pemimpin dunia khususnya negeri-negeri muslim tergerak hatinya untuk membantu Palestina dengan mengerahkan seluruh tentara yang ada, sehingga Palestina bebas seutuhnya. Karena sejatinya hanya dengan jihad dan persatuan umatlah Palestina akan bisa bebas.

Walaupun semua itu tidaklah mudah karena persatuan umat masih tersekat nasionalisme dan nation state yang merupakan hasil pemikiran sistem kapitalisme yang dibawa Barat. Kedua paham inilah yang menjadikan umat bercerai berai, karena berpandangan tidak boleh ikut campur urusan negara lain, sehingga umat muslim terlebih penguasanya hanya memikirkan keamanan negaranya sehingga masalah Palestina tak pernah tuntas. Karenanya, umat harus menyingkirkan dulu tembok penghalang persatuan umat ini. Lalu menggantinya dengan sistem yang diturunkan Allah yaitu Islam.

 

Islam Solusi Pembebasan Palestina

Sejatinya, hanya penerapan sistem Islam kafah dalam institusi negara Khilafah Islamiahlah satu-satunya solusi atas Palestina. Itu karena cuma negara khilafah yang bisa menjaga kemuliaan dan kewibawaan umat. Sejarah menjadi bukti hal ini. Selama 14 abad khilafah berjaya dan menjadi negara adidaya, umat Islam benar-benar ditakuti, bahkan dunia Eropa berpandangan bahwa umat muslim tak dapat terkalahkan.

Begitu pun dengan umat muslim Palestina, selama khilafah ada, musuh-musuh Islam tidak berani menyentuhnya. Gambaran riilnya terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Abdul Hamid ll dimana Yahudi tak mampu mengambil alih Palestina karena sang Khalifah sangat tegas terhadap musuh Islam tersebut. Walaupun Yahudi mengirim utusannya (Theodore Herzl) untuk membujuk khalifah dengan iming-iming sejumlah harta, namun tidak membuat khalifah tertarik melepaskan tanah Palestina. Sikap ini ditempuh khalifah karena ia paham bahwa status Palestina adalah tanah kharajiyyah. Kepemilikannya adalah milik kaum muslimin dan tidak bisa dialihkan pada siapapun terlebih Zionis Yahudi.

Khilafah yang merupakan representasi dari sistem Islam kafah, akan menjadi negara independen yang tidak tunduk pada negara manapun terlebih Barat. Sebab syariat Islam melarang berkompromi dengan negara kafir apalagi yang memerangi Islam.

Firman Allah Swt.: “Sungguh Allah telah melarang kalian menjadikan teman orang-orang yang mengusir kalian dari negeri kalian. Siapa saja yang menjadikannya sebagai teman, maka ia termasuk golongan yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah: 9)

Keberadaan khilafah juga akan menyatukan umat dan menghilangkan sekat nasionalisme dan nation state. Ini karena Islam memandang bahwa setiap muslim hakikatnya bersaudara diikat oleh akidah Islam, sehingga tatkala ada saudaranya yang teraniaya ia akan segera berjihad menolongnya. Sebab hanya jihad fii sabilillah satu-satunya jalan yang ditetapkan Islam untuk menghilangkan penjajahan dan mengusir musuh (lihat QS Al-Baqarah ayat 191). Oleh karenanya, jelas keberadaan khilafah merupakan hal yang urgen untuk pembebasan Palestina. Dan memperjuangkan keberadaan khilafah adalah puncak kewajiban umat saat ini.

Wallahu a'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya

khilafahPalestinaGaza