Gaza terus bergejolak. Bom, senjata api, drone terus mengarah ke warga sipil yang tidak berdosa. Di tengah gempuran tentara IDF, dan di antara reruntuhan bangunan, anak-anak yang kehilangan orangtua tetap belajar. Pada tanggal 18/8, ada lebih dari seribu anak yatim piatu di al-Wafa, Orphan Village Khan Younis, mengikuti acara kelulusan. Suasananya sangat mengharukan karena biasanya momen seperti ini menjadi saat yang membahagiakan, tapi harus dilewati dengan kesedihan karena kehilangan orang-orang yang disayangi. (Facebook, Inilahcom, 23/8/2025)
Anak-anak Gaza memang luar biasa. Mereka hebat bukan karena juara olimpiade atau sejenisnya. Namun mereka sangat tangguh ketika berada di tengah konflik. Sebagaimana kita ketahui kondisi perang antara Zionis dan Palestina tidak seimbang. Yang satu mendapat dukungan penuh dari negara adidaya (Amerika Serikat) berupa persenjataan dan biaya operasionalnya. Sementara lawannya sendirian tidak ada yang menolong sedikit pun kecuali bantuan kemanusiaan.
Lebih dari itu UNRWA melaporkan pengiriman bantuan sejak Maret 2025 sangat terbatas karena jalur Rafah diblokade. Biasanya rata-rata 500 truk bantuan bisa masuk ke Gaza per harinya, tapi sekarang hanya sekitar 76 saja. Ini merupakan salah satu bagian dari rencana Zionis untuk mengosongkan wilayah konflik ini. Selain melakukan pengeboman pusat-pusat pendidikan, kesehatan dan fasilitas publik lainnya serta pembunuhan lewat sniper. Berdasarkan beberapa laporan lebih dari 117 sekolah dan universitas hancur total dan 332 lainnya mengalami kerusakan. Tidak kurang dari 70 persen sekolah juga hancur, rumah sakit besar di beberapa wilayah dibom, bahkan tentara Israel tega menembak warga sipil yang sedang mengantri untuk mendapatkan makanan.
Akibat dari strategi keji pelaparan ini, 235 orang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi, 106 di antaranya adalah anak-anak. Meski kondisi perang yang tidak seimbang dan berada di tengah tekanan serta keterbatasan, anak-anak Gaza tetap menyelesaikan pendidikan. Ketabahan dan ketangguhan membuat mereka tetap belajar meski di tengah perang. Hal ini sepatutnya memberi inspirasi yang luar biasa kepada generasi sekarang. Karena sekalipun berada dalam situasi penuh tekanan dan penderitaan, mereka masih fokus pada pendidikan, ikut berkontribusi membentuk generasi yang berkepribadian Islam.
Pendidikan Qurani yang diberikan kepada anak-anak Gaza membuat mereka menjadi pribadi yang luar biasa. Hal ini berbanding terbalik dengan generasi muda yang hidup di negara yang menerapkan sistem kapitalisme yang telah banyak terkena duck syndrome. Istilah ini awalnya muncul dan digunakan untuk menjelaskan mahasiswa Universitas Stanford yang tampak baik-baik saja tetapi sebenarnya mereka sedang berjuang melawan kesulitan hidupnya. Sekarang ini fenomena yang sama menjangkiti sekolah-sekolah tinggi lain di berbagai negara termasuk di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah keseimbangan psikologis yang terganggu, ketika keputusan-keputusan dalam hidup tidak didorong oleh keinginan pribadi tapi karena tekanan eksternal.
Duck syndrome banyak dialami oleh para pelajar, mahasiswa dan orang-orang dewasa muda yang baru meniti karier. Mereka berada dalam tekanan hidup karena sistem kapitalisme yang berlaku tidak memanusiakan manusia. Mereka berjuang dengan standar yang sebenarnya sulit untuk dipenuhi sehingga menjadi stres. Hal ini diperparah dengan keimanan yang lemah, tidak memahami tujuan hidup, prioritas dan politik yang tengah terjadi. Keadaan ini adalah konsekuensi dari dijauhkannya agama dari kehidupan (sekularisme) oleh negara. Masyarakat sekarang berada dalam krisis multidimensi sehingga membutuhkan solusi yang mendasar dan tidak bisa dilakukan oleh individu per individu.
Generasi muda yang menderita di sistem kapitalisme, dan ketangguhan anak-anak Gaza di tengah konflik, harus segera direspon dengan solusi syar'i untuk mengakhirinya. Untuk itu umat Islam harus bersatu di bawah kepemimpinan seorang khalifah, beliaulah yang akan menyatukan tentara kaum muslim yang saat ini tercerai-berai oleh batas nation state. Kemudian mengomando jihad mengusir penjajah Zionis dari Palestina dan meruntuhkan dominasi sistem kapitalisme global. Kepemimpinan itu pasti akan tegak. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw:
"...Kemudian akan ada khilafah yang mengikuti metode kenabian." (HR Ahmad)
Saat ini, perjuangan menegakkan khilafah ini tengah dilakukan dan membutuhkan dukungan umat yang lebih luas termasuk dari para pemuda dan mahasiswa. Mereka akan bisa merasakan kehidupan yang tenang, nyaman dan aman jika berada di bawah naungan negara yang menerapkan syariat Islam. Agama ini bisa menginspirasi anak-anak Gaza untuk tetap tangguh di tengah perang yang terus berkecamuk, pun demikian pula halnya dengan duck syndrome, tidak akan menjangkiti generasi muda jika sistem sahih ini menaungi negerinya. Bahkan bisa membawa keberkahan bagi seluruh alam. Untuk itu butuh kesadaran politik yang luas dari semua pihak bahwa harus ada perubahan mendasar untuk mengatasi krisis multidimensi yang mendera Indonesia dan dunia saat ini. Yaitu merubah sistem yang berlaku hari ini dengan sistem Islam.
Wallahu a'lam bis shawab
