Memuat...

Opini: Saat Gen-Z Peduli Umat

Oleh Umi LiaMember Akademi Menulis Kreatif
Kamis, 18 September 2025 / 26 Rabiulawal 1447 16:55
Opini: Saat Gen-Z Peduli Umat
Ilustrasi. (Foto: TRIBUN-TIMUR.COM/MUSLIMIN EMBA)

Aksi unjuk rasa yang memakan korban Agustus kemarin,  dilakukan oleh berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa, aktivis, buruh, pengemudi ojek online, artis, masyarakat umum bahkan  pelajar sekolah menengah. Mereka ramai-ramai turun ke jalan menyuarakan aspirasinya dalam menyikapi tekanan hidup yang kian berat. Gaung protes juga terjadi di berbagai media massa   oleh kaum gen-z dalam bentuk meme, poster visual, hingga narasi digital. Fakta ini mengundang respon Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo. Menurutnya anak muda sekarang mempunyai cara tersendiri dalam menghadapi masalah sosial, yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka bersikap adaptif dan konstruktif sehingga mampu membela diri, berani terlibat dan menyuarakan pendapat, mempunyai batasan yang jelas dan tetap terhubung dengan orang lain secara emosional. Dalam situasi yang tidak kondusif mereka tidak mundur, tetap terlibat dengan posting, live streaming (siaran langsung melalui internet) atau membuat citizen journalisme (penyebaran informasi oleh warga biasa/bukan wartawan). (Kompas.com, 5/9/2025)

Terkait hal ini, Prof. Rosemini Agoes Salim berpendapat lain. Ia mengingatkan anak-anak di bawah umur yang ikut demonstrasi, agar mewaspadai adanya resiko yang berbahaya. Karena mereka rentan terprovokasi mengingat kontrol diri mereka belum matang, meski diakui nilai plusnya akan selalu ada ketika mereka turun ke jalan, yaitu menjadi momen belajar tentang cara  menyampaikan pendapat. Hal ini seolah menegaskan bahwa unjuk rasa bukan hanya tempat berekspresi, melainkan juga aktivitas yang penuh resiko.

Para psikolog mengklasifikasikan karakteristik gen-z sebagai generasi  kreatif digital, cinta kebebasan, tapi emosional dan haus pengakuan. Kemudian mereka diarahkan agar nyaman menyampaikan ekspresi diri dalam ranah personal dan kultural, bukan struktural dan politis. Inilah yang luput dari perhatian para ahli tersebut. Analisanya cenderung meredam kesadaran politik para pemuda, hanya terbatas pada menjaga identitas, citra dan emosi sambil menghindari eskalasi konflik.

Padahal sejak awal penciptaannya, manusia mempunyai naluri mempertahankan diri yang membuatnya gerah atas kezaliman dan menuntut kehidupan yang adil. Unjuk rasa bukan sekedar gaya komunikasi khas gen-z, tetapi merupakan wujud fitrah manusia yang tidak rida dizalimi. Keresahan tentang harga kebutuhan pokok yang terus merangkak, pendidikan, lapangan kerja hingga korupsi berakar dari kerusakan sistem yang berlaku sekarang. Analisa psikolog yang berhenti pada prilaku anak muda, menjadi dangkal. Menyebut demonstrasi hanya sebagai tempat berekspresi dan belajar, adalah narasi yang menutup fakta bahwa kapitalisme liberal adalah biang masalah. Pernyataan yang disampaikan para psikolog ini bisa melanggengkan ketidakadilan.

Tuntutan masyarakat dan gen-z yang disampaikan saat demo, harusnya diperhatikan. Tidak berhenti pada isu-isu pragmatis saja. Mereka membutuhkan solusi yang mendasar dan benar-benar menghilangkan akar masalah yaitu kezaliman. Dengan kata lain, kesadaran politik harus dibangkitkan, bukan diredam dengan wacana yang bersifat analisa psikologis. Potensi pemuda perlu diarahkan untuk memahami bahwa kegelisahan mereka akan hilang melalui perubahan sistemik, bukan pergantian rezim. Sistem Islam mampu mengelola urusan rakyat dan bisa mewujudkan apa yang menjadi tuntutan manusia pada umumnya.

Syariat telah menetapkan bahwa sejak awal manusia diciptakan dengan fitrah yang khas. Yaitu berupa naluri-naluri dan kebutuhan fisik yang harus dipenuhi sesuai tuntunan syara', bukan sekedar teori psikologis. Manusia memiliki tiga naluri, yakni mempertahankan diri, beragama dan melestarikan jenis. Jika ketiganya dipenuhi sesuai dengan aturan Allah Swt., maka manusia tidak hanya akan bereaksi spontan terhadap tekanan, tapi juga akan menemukan arah perjuangan yang benar untuk menghilangkan kezaliman. Agama ini juga mempunyai cara yang  harus diikuti dalam menghadapi pemerintahan yang sewenang-wenang. Yaitu melakukan muhasabah lil hukam/mengoreksi penguasa. Cara seperti ini telah dilakukan sejak zaman Rasulullah saw., menyampaikan kritikan dengan argumentasi/hujjah yang penuh hikmah sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS an-Nahl ayat 125:

"Serulah manusia ke jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik."

Jadi menyampaikan kritikan atau mengoreksi penguasa merupakan kewajiban syar'i untuk menghapus kezaliman. Sejarah perjuangan dan peradaban Islam menggambarkan bagaimana potensi generasi muda sangat berpengaruh dalam perubahan dari masa jahiliyah ke era yang penuh keadilan. Sahabat Rasul seperti Ali bin Abi Thalib, Mush'ab bin Umair, Usamah bin Zaid dan lain-lain adalah contoh orang-orang yang bergerak terdepan dalam dakwah. Mereka dipandu oleh wahyu Allah dan diarahkan untuk melakukan perubahan sistemik menuju tegaknya sistem Islam. Tidak seharusnya aktivitas dan peran pemuda dibatasi pada ekspresi kreatif berupa tren digital di dunia maya saja. Mereka juga harus diarahkan untuk bisa membangun kesadaran politik yang sebenarnya sehingga bisa menghantarkan pada pergantian ideologi yang diadopsi negara menjadi ideologi yang sahih.

Karena jika hanya pergantian rezim dilakukan tanpa sistem yang berubah, rakyat harus siap-siap kecewa. Para pendemo tentu sangat berharap akan terjadi perubahan setelah aksi yang panjang dan memakan korban. Namun jika memperhatikan pengalaman yang selalu berulang, sulit rasanya berharap akan terjadi pergantian sistem. Sebagian besar masyarakat masih meyakini bahwa demokrasi masih bisa diharapkan untuk meraih kebahagiaan dan kesejahteraan. Padahal bagaimana bisa, ide yang menghilangkan peran Tuhan dan menjamin kebebasan, baik kebebasan berpendapat, berprilaku, memiliki dan beragama ini mewujudkan kebaikan yang menjadi impian manusia? Di mana pun dan kapan pun paham ini dipakai, tidak menghasilkan keadilan bagi semua warganya kecuali segelintir orang saja.

Dengan demikian demo mahasiswa, pelajar dan elemen lainnya di jalan, serta kreativitas digital di media sosial harus dipahami sebagai potensi besar yang perlu dituntun oleh Islam. Tanpa arahan wahyu Allah, energi besar ini hanya akan berhenti pada ruang ekspresi sesaat. Bahkan bisa dimanipulasi oleh sistem kapitalisme untuk meredam kesadaran politik yang sudah ada. Namun jika dilandasi oleh pemikiran sahih, keresahan rakyat dan keberanian gen-z akan menjadi kekuatan yang bisa menghilangkan kezaliman hingga ke akar-akarnya. Sebagaimana pernah dibuktikan oleh generasi sahabat dalam sejarah. Sistem Islam yang adil akan tegak sebagai sebuah peradaban di bawah naungan Khilafah Islamiyah.

Wallahu a'lam bis shawab

Editor: Hanin Mazaya

unjuk rasademonstrasi