Memuat...

Rp524 Triliun Kehancuran: Indonesia dan Wajah Gelap Perdagangan Narkoba

Hanin Mazaya
Rabu, 21 Mei 2025 / 24 Zulkaidah 1446 13:42
Rp524 Triliun Kehancuran: Indonesia dan Wajah Gelap Perdagangan Narkoba
Rp524 Triliun Kehancuran: Indonesia dan Wajah Gelap Perdagangan Narkoba

Oleh: Risabella N. Burhani, S.Pd

Beberapa waktu terakhir, publik dikejutkan oleh penggagalan penyelundupan 1,9 ton sabu oleh TNI AL di perairan Aceh, jumlah mengerikan yang cukup untuk menghancurkan masa depan jutaan anak bangsa. Tak lama berselang, pihak kepolisian berhasil mengungkap peredaran 10 kilogram sabu yang disembunyikan di sebuah apartemen mewah di kawasan elit Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta.

Mirisnya, wajah perdagangan narkoba kini tidak hanya diisi pria. Perempuan pun menjadi tokoh utama dalam skenario kelam ini. Salah satunya adalah Dewi Astutik, dijuluki “Griselda Blanco dari Indonesia”, yang menjalankan operasi narkoba dari balik jeruji besi.

Bahkan, di Riau, seorang narapidana masih bisa mengontrol jaringan peredaran narkoba dari dalam lembaga pemasyarakatan.
Lebih menyayat hati, nilai transaksi narkotika di Indonesia telah mencapai angka mencengangkan: Rp524 triliun per tahun. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret nyata dari keruntuhan moral, kebocoran hukum, dan kehilangan arah generasi bangsa.

 

Mengapa Indonesia Jadi Lahan Subur Narkoba?
Ada beberapa sebab mendasar yang menjadikan Indonesia begitu rawan dan rentan:
* Letak geografis strategis. Dikelilingi negara-negara penghasil narkoba, Indonesia menjadi jalur lintasan yang ideal bagi peredaran internasional.
* Rantai pengawasan yang lemah. Kasus narapidana yang masih bebas menjalankan bisnis narkoba dari dalam penjara adalah bukti nyata sistem yang bocor.
* Gaya hidup hedonis dan kerapuhan spiritual. Banyak anak muda kini terjebak dalam kekosongan makna hidup. Mereka mencari pelarian dari stres dan luka batin, dan narkoba hadir sebagai solusi semu.
* Keluarga yang tercerai-berai dan minimnya pendidikan nilai. Anak-anak tumbuh tanpa pondasi moral yang kuat, kehilangan identitas dan arah hidup.

 

Islam dan Solusi Menyeluruh: Dari Akar Sampai Pemulihan
Islam tak hanya melarang penggunaan narkoba, tapi juga menyediakan sistem perlindungan jiwa dan pemulihan makna hidup. Terjemahan QS. Al-Baqarah: 195, Allah memperingatkan:
“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”

Narkoba bukan hanya bentuk bunuh diri perlahan, tapi juga kejahatan terhadap keluarga dan bangsa. Islam mengajarkan bahwa tubuh, akal, dan ruh adalah titipan Ilahi-yang wajib dijaga, bukan dirusak.

 

Keadilan Bukan Sekadar Hukuman, Tapi Jalan Kembali ke Fitrah
Islam tidak membatasi konsep keadilan hanya pada pemberian hukuman. Tapi tentang memulihkan manusia ke jalur yang benar, memberi ruang bagi mereka yang ingin pulih, dan menciptakan lingkungan sosial yang suportif.

Islam, melalui prinsip al-hisbah, mengajarkan bahwa menjaga nilai dan mencegah penyimpangan adalah tugas kolektif umat, bukan sekadar tanggung jawab individu.

 

Langkah Nyata: Dari Rumah hingga Regulasi
1. Bangkitkan Kembali Fungsi Keluarga
* Mulai dari komunikasi jujur dan terbuka.
* Didik anak dengan nilai, bukan sekadar peraturan.
* Bangun suasana rumah yang mendukung proses pemulihan, bukan yang penuh dengan vonis dan tudingan.
2. Dakwah Digital yang Relevan dan Emosional
* Buat konten pendek di TikTok, IG Reels, dan YouTube yang menyentuh sisi manusiawi.
* Ceritakan kisah nyata dari para mantan pengguna yang hijrah dan bangkit.
* Lawan glorifikasi narkoba dengan narasi makna dan harapan.
3. Rehabilitasi dengan Ruh Spiritual
* Bangun komunitas Hijrah dari Narkoba di berbagai kota.
* Sertakan mentoring keimanan, pelatihan skill, dan support group.
* Libatkan pesantren, masjid, dan organisasi keagamaan.
4. Negara yang Tegas Sekaligus Mengayomi
* Tegakkan hukum yang adil untuk bandar besar dan aktor pelindungnya.
* Bersihkan sistem rehabilitasi dari pungutan liar dan stigma sosial.
* Masukkan pendidikan akidah dan akhlak sejak bangku sekolah dasar.

 

Luka yang Butuh Pulih, Bukan Ditutup Rapat
Narkoba adalah gejala dari penyakit yang lebih dalam: jiwa yang kehilangan arah, hidup yang kehilangan makna, dan negara yang gagal menjaga martabat warganya.
Kalau kita ingin menyelamatkan bangsa dari kehancuran bernama narkoba, kita harus memulai dari pemulihan diri, keluarga, masyarakat, dan sistem pendidikan yang berpijak pada iman dan akhlak.

Sekarang tinggal satu pertanyaan penting:
Mau sampai kapan Indonesia menjadi ladang pasar kehancuran, bukan lumbung peradaban?
Pulih atau punah, kita yang tentukan!

narkoba